Namun, untuk sektor industri dengan rantai pasok panjang seperti tekstil, dibutuhkan waktu serta strategi penyesuaian yang matang sebelum dapat memanfaatkan peluang ekspor secara optimal.
Para pengamat tersebut sepakat tarif 0 persen dalam kesepakatan ART merupakan peluang yang signifikan bagi perdagangan Indonesia, namun bukan jaminan otomatis peningkatan ekspor. Tauhid mengingatkan Indonesia harus tetap memperkuat daya saing agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Kita tidak boleh terkecoh dengan angka 1.819 pos tarif. Walaupun tarif ekspor menjadi 0 persen, belum tentu ekspor kita langsung meningkat jika kapasitas dan daya saing industri belum siap,” katanya.
Kajian Tauhid yang mengacu pada model analisis ekonomi yang dikembangkan IPB memperkirakan bahwa dalam skenario tarif 19 persen dengan pengecualian 0 persen untuk produk tertentu, ekspor Indonesia dapat turun sekitar 1,58 persen, sementara impor diproyeksikan meningkat 1,51 persen.
Dalam skenario tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan terkoreksi sekitar 0,41 persen. Sementara itu, Amerika Serikat diproyeksikan mencatat pertumbuhan sebesar 6,54 persen.
Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia juga perlu mengantisipasi potensi tekanan defisit sekitar USD5,7 miliar, belum termasuk komitmen pembelian komoditas Amerika senilai USD38,4 miliar yang tercantum dalam kesepakatan ART.
(Dhera Arizona)