AALI
10125
ABBA
232
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1470
ACST
272
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
1165
ADMF
0
ADMG
167
ADRO
1195
AGAR
410
AGII
1100
AGRO
900
AGRO-R
0
AGRS
595
AHAP
71
AIMS
480
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3220
AKSI
0
ALDO
890
ALKA
238
ALMI
240
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/05/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
467.69
-0.91%
-4.29
IHSG
5921.08
-0.92%
-54.70
LQ45
879.63
-1%
-8.87
HSI
28013.81
0%
0.00
N225
28608.59
0%
0.00
NYSE
16355.62
0%
0.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,195
Emas
838,803 / gram

Risiko Kredit Perbankan di Jawa Timur Naik 3,91 Persen

ECONOMICS
Lukman Hakim/Sindo
Jum'at, 09 April 2021 16:48 WIB
Risiko kredit atau non performing loan (NPL) di Jawa Timur (Jatim) selama triwulan IV 2020 naik menjadi 3,91 persen.
Risiko Kredit Perbankan di Jawa Timur Naik 3,91 Persen. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Risiko kredit atau non performing loan (NPL) di Jawa Timur (Jatim) selama triwulan IV 2020 naik menjadi 3,91 persen. Angka ini lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 3,66 persen. NPL ini banyak terjadi pada kredit modal kerja dan kredit investasi.

Berdasarkan kelompok bank, meningkatnya risiko kredit secara nominal lebih didorong oleh NPL bank persero dan bank swasta nasional. Nominal NPL bank persero dan bank swasta nasional masing-masing naik sebesar 10,73 persen dan 2,88 persen, sementara itu, NPL BPD dan bank asing atau campuran menurun.
 
“Peningkatan risiko kredit terjadi pada kredit dalam bentuk valas, sementara NPL kredit dalam bentuk rupiah sedikit menurun. Dari 3,78 persen menjadi 3,76 persen,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim, Difi Ahmad Johansyah, Jumat (9/4/2021).

Data Laporan Perekonomian Jatim yang dirilis BI menyebutkan, berdasarkan sektor ekonomi, meningkatnya NPL perbankan di Jatim utamanya disebabkan oleh sektor pertambangan, penggalian, real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan.

Penyebab peningkatan NPL lapangan usaha pertambangan dan penggalian adalah subsektor pertambangan batubara, penggalian gambut, dan gasifikasi batubara serta pertambangan dan penggalian lainnya.

Sementara peningkatan NPL lapangan usaha real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan disebabkan oleh sub sektor real estate gedung rumah toko (ruko) atau rumah kantor (rukan) serta real estate perumahan sederhana (Perumnas).

“Peningkatan NPL sektor ini ditengarai akibat terkontraksinya PDRB pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang minus 0,68 persen,” tandas Difi.

Di sisi lain, pada triwulan IV 2020, NPL kredit UMKM mencapai 3,66 persen, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 3,75 persen. Penurunan NPL ini menunjukkan kegiatan dan perputaran ekonomi sudah lebih stabil.

“Masyarakat juga telah mulai melakukan kegiatan ekonomi seperti transaksi jual beli. Sehingga tingkat NPL menurun secara perlahan,” ungkap Difi. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD