Pertama, fase terkejut dan wait and see, di mana transaksi melambat sementara. Fase kedua yakni selektivitas tinggi yakni hanya proyek premium dengan lokasi strategis dan harga realistis yang tetap bergerak.
"Ketiga, fase normalisasi, di mana pasar kembali rasional apabila situasi global mereda," kata Ferry.
Menurutnya, jika konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global berkepanjangan, dampaknya cenderung moderat dan temporer.
"Namun apabila terjadi lonjakan harga energi yang signifikan dan tekanan inflasi meningkat tajam, efek terhadap daya beli dan pembiayaan properti bisa lebih terasa," ujarnya.
(Dhera Arizona)