sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Segmen Properti Ini Paling Rentan Terdampak Konflik AS vs Iran

Economics editor Dhera Arizona Pratiwi
08/03/2026 21:09 WIB
Setidaknya ada beberapa segmen properti yang dinilai lebih sensitif atau rentan terhadap kondisi saat ini.
Segmen Properti Ini Paling Rentan Terdampak Konflik AS vs Iran. (Foto Istimewa)
Segmen Properti Ini Paling Rentan Terdampak Konflik AS vs Iran. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Sektor properti dinilai cukup sangat terdampak imbas adanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun, dampaknya lebih bersifat tidak langsung melalui beberapa jalur transmisi makroekonomi.

Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, setidaknya ada beberapa segmen properti yang dinilai lebih sensitif atau rentan terhadap kondisi saat ini.

Pertama, apartemen kelas menengah atas yang banyak dibeli investor. Selanjutnya, properti yang pembeliannya bersifat spekulatif.

"Kemudian, pengembang dengan leverage tinggi (menggunakan utang dalam porsi besar dibandingkan modal sendiri (equity) untuk membiayai proyeknya, dan hotel berbasis MICE dan pusat perbelanjaan yang sangat bergantung pada konsumsi dan aktivitas bisnis," ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (8/3/2026).

Selain itu, kata Ferry, segmen menengah ke bawah juga relatif rentan. Sebab, sangat sensitif terhadap kenaikan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan inflasi kebutuhan pokok.

Sementara itu, rumah tapak yang dibeli untuk kebutuhan hunian (end-user driven) relatif lebih resilien karena permintaannya berbasis kebutuhan dasar, bukan spekulasi.

Lebih lanjut, Ferry mengungkapkan, kawasan industri berbasis aktivitas manufaktur riil juga cenderung lebih stabil. "Terutama jika didukung investasi jangka panjang, meskipun tetap dipengaruhi kondisi permintaan global," katanya.

Ferry juga menuturkan, secara umum, pasar properti cenderung melalui tiga fase saat menghadapi tekanan eksternal.

Pertama, fase terkejut dan wait and see, di mana transaksi melambat sementara. Fase kedua yakni selektivitas tinggi yakni hanya proyek premium dengan lokasi strategis dan harga realistis yang tetap bergerak.

"Ketiga, fase normalisasi, di mana pasar kembali rasional apabila situasi global mereda," kata Ferry.

Menurutnya, jika konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global berkepanjangan, dampaknya cenderung moderat dan temporer.

"Namun apabila terjadi lonjakan harga energi yang signifikan dan tekanan inflasi meningkat tajam, efek terhadap daya beli dan pembiayaan properti bisa lebih terasa," ujarnya.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement