sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Terapkan Zero Waste to Landfill, Suparma (SPMA) Kelola 99 Persen Limbah Padat Produksi

Economics editor Kunthi Fahmar Sandy
30/01/2026 08:26 WIB
PT Suparma Tbk (SPMA) menjadi perusahaan manufaktur pertama yang menerapkan program Zero Waste to Landfill.
Terapkan Zero Waste to Landfill, Suparma (SPMA) Kelola 99 Persen Limbah Padat Produksi  (FOTO:Dok Ist)
Terapkan Zero Waste to Landfill, Suparma (SPMA) Kelola 99 Persen Limbah Padat Produksi (FOTO:Dok Ist)

IDXChannel – PT Suparma Tbk (SPMA) menjadi perusahaan manufaktur pertama yang menerapkan program Zero Waste to Landfill

Melalui program Zero Waste to Landfill, SPMA berhasil mengelola 99,95 persen limbah padat produksi agar tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Hal tersebut diungkap CEO PT Suparma Tbk Edward Sopanan saat memperoleh Sertifikasi Zero Waste to Landfill dari lembaga sertifikasi internasional Control Union. Sertifikasi bertajuk “Zero Waste to Landfill: Turning Commitment into Impact” ini diserahkan langsung oleh Director PT PCU Indonesia (Control Union Indonesia) Gayan Wejesiriwardana kepada SPMA.

"Pengelolaan dilakukan melalui optimalisasi daur ulang, pemanfaatan kembali limbah, serta penerapan teknologi ramah lingkungan.

Program tersebut menjadi bagian dari strategi ekonomi sirkular sekaligus implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan," katanya dalam keterangan tertulis Jumat (30/1/2026). 

Dengan pendekatan ini, limbah diposisikan sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna. Edward menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil komitmen jangka panjang perusahaan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan. Ia menegaskan bahwa Suparma menjadi perusahaan manufaktur pertama di Indonesia yang menerima sertifikasi Zero Waste to Landfill.

Saat ini, limbah internal PT Suparma Tbk terdiri atas limbah Faba (fly ash dan bottom ash) dengan volume sekitar 40 ton per hari, limbah plastik sekitar 20 ton per hari, serta limbah organik sekitar 300 kilogram per hari. Seluruh limbah tersebut dikelola secara internal tanpa dibuang ke luar perusahaan maupun ke TPA.

Edward menjelaskan penerapan Zero Waste to Landfill dilakukan secara bertahap sejak 2020 dan mengalami percepatan signifikan pada 2024. Limbah Faba dimanfaatkan oleh perusahaan afiliasi menjadi berbagai produk konstruksi seperti genteng, paving, batako, pot bunga, hingga bata ringan. Sementara limbah plastik diolah menjadi energi untuk kebutuhan internal perusahaan.

Ke depan, Suparma membuka peluang untuk memasarkan produk hasil pengolahan limbah tersebut secara lebih luas seiring penguatan visi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah dari praktik keberlanjutan.

“Kami memandang pencapaian ini bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Dedik Irianto mengapresiasi pencapaian Suparma yang menjadikan Surabaya sebagai lokasi perusahaan manufaktur pertama dengan program Zero Waste to Landfill. “Kami bangga karena Surabaya menjadi yang pertama. Semoga langkah ini dapat diikuti industri lain sehingga beban TPA dapat berkurang,” kata Dedik.

Ia menambahkan, meski Surabaya telah memiliki fasilitas Waste-to-Energy di TPA Benowo dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari, volume sampah yang masuk masih mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Karena itu, peran sektor industri dinilai sangat penting dalam mendukung pengurangan beban lingkungan.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement