AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Waspada Flexing, Fenomena Pamer Kekayaan di Medsos Bisa Berujung pada Penipuan

ECOTAINMENT
Shelma Rachmahyanti
Jum'at, 21 Januari 2022 14:52 WIB
Saat ini media sosial kerap menjadi sarana ‘pamer’ atas pencapaian seseorang.
Saat ini media sosial kerap menjadi sarana ‘pamer’ atas pencapaian seseorang. (Foto: MNC Media)
Saat ini media sosial kerap menjadi sarana ‘pamer’ atas pencapaian seseorang. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Saat ini media sosial (medsos) menjadi sarana ‘pamer’ atas pencapaian seseorang. Adapun banyak orang yang terlihat kaya di medsos.

Mengunggah sebuah konten di akun pribadi memang merupakan hak setiap orang. Namun, hal itu tentu saja membuat para pengguna medsos lain memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Akademisi dan praktisi bisnis Prof Rhenald Kasali mengatakan, dalam teori consumer behavior ada yang namanya conspicuous consumption yakni konsumsi yang disengaja ditunjukkan pada orang lain. Hal ini juga dikenal dengan istilah flexing.

“Dia memiliki sesuatu misal mobilnya mewah, perabotannya luar biasa, dia mau menunjukkan dia orang hebat. Karena orang hebat itu memiliki sesuatu, wajar dia memiliki pendapatan yang hebat,” kata Prof Rhenald Kasali seperti dikutip dari akun Youtube pribadinya, Jumat (21/1/2022).

Flexing tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, namun juga bisa digunakan dalam marketing. Sebagai contoh di Indonesia pernah terjadi kasus penipuan yang dilakukan sebuah travel perjalanan umrah.

“Beberapa tahun lalu ada seorang yang ditangkap polisi karena menipu banyak sekali orang yang dijanjikan bisa mengikuti ibadah umrah dengan harga yang sangat murah. Di mana, rumah orang tersebut sangat mewah bak istana. Bahkan dalam promosi bersama pasangannya pergi ke Paris, Italia, dan lain sebagainya memamerkan barang mewah,” jelas Prof Rhenald.

Lanjutnya, flexing yang digunakan dalam cara marketing tersebut bertujuan membangun kepercayaan kepada customer.

“Dari situ belakangan kita baru tau ternyata kekayaannya atau cara flexing itu adalah cara marketing untuk membangun kepercayaan dan menunjukkan kepada customer,” tandasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD