IDXChannel - Kinerja investasi dan operasional PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) diklaim berhasil menyumbang terhadap perekonomian nasional hingga Rp173 triliun, dalam kurun waktu 2018 hingga 2024 lalu.
Klaim tersebut disampaikan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) melalui hasil kajiannya yang bertajuk Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT AMNT.
Dalam kajian tersebut, pihak LPEM FEB UI mengestimasi kontribusi kegiatan pertambangan, pembangunan smelter, dan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dari anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) itu terhadap perekonomian skala nasional dan daerah, sepanjang periode 2018 hingga 2024.
"Kajian ini menggunakan pendekatan economic multiplier berbasis Inter-Regional Input-Output (IRIO) untuk mengestimasi dampak ekonomi dari belanja investasi, operasional, dan program pemberdayaan masyarakat Perseroan terhadap perekonomian nasional dan daerah," ujar Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, dalam keterangan resminya, Selasa (12/3/2026).
Menurut Uka, pendekatan ini tidak hanya menghitung dampak langsung seperti belanja barang dan jasa kepada kontraktor, pemasok atau sektor lain yang berkaitan dengan usaha AMNT, melainkan juga dampak tidak langsung, yaitu aktivitas ekonomi yang muncul ketika para pemasok berproduksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Melalui keterkaitan antar sektor dan antar wilayah, rangkaian aktivitas ini menciptakan efek berganda, tidak hanya di wilayah lokasi AMNT, namun juga mencakup keterkaitannya dengan wilayah lainnya.
Uka menjelaskan, bahwa dalam kajian ini ditemukan fakta terkait aktivitas AMNT yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional melalui peningkatan output, pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, serta penguatan posisi fiskal dan neraca eksternal Indonesia.
Sepanjang periode kajian, kontribusi AMNT terhadap pembentukan PDB nasional mencapai Rp173,4 triliun, atau rata-rata Rp24,8 triliun per tahun, setara sekitar 0,13 persen dari PDB, atas dasar harga berlaku nasional tahun 2024.
Selain kontribusi makro, kajian juga menunjukkan dampak sosial ekonomi yang luas, di mana kegiatan usaha AMNT berperan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di berbagai daerah.
"Temuan kajian menunjukkan bahwa kontribusi AMMAN tidak hanya terlihat pada angka-angka makro, tetapi juga pada tingkat rumah tangga dan komunitas," ujar Uka.
Dikatakan Uka, kegiatan operasional AMNT telah menciptakan rangkaian efek berganda yang luas, misalnya terkait kebutuhan penyediaan makanan bagi ribuan karyawan turut menghidupkan usaha para petani, peternak, dan penyedia bahan pangan lokal.
Begitu pula dengan kebutuhan logistik dan jasa lainnya yang membuka kesempatan kerja di berbagai sektor dan wilayah.
"Inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi yang dipicu Perseroan dapat berdampak dengan skala luas dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat," ujar Uka.
Tak hanya itu, kajian juga mencatat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan pendapatan rumah tangga sebesar Rp67,6 triliun selama periode kajian.
Peningkatan pendapatan ini turut berkontribusi pada penurunan tingkat kemiskinan nasional sebesar 0,024 hingga 0,098 poin persentase (atau sekitar 80 ribu hingga 206 ribu orang), serta penurunan tingkat pengangguran nasional sebesar 0,012 hingga 0,069 poin persentase (atau sekitar 29 ribu hingga 90 ribu orang).
Pada sisi fiskal, AMNT juga berkontribusi secara substansial terhadap penerimaan negara. Sepanjang periode 2018 hingga 2024, total kontribusi fiskal perusahaan, baik pembayaran langsung ke kas negara maupun tidak langsung oleh wajib pajak yang terdampak aktivitas AMNT, yang mencapai Rp39,05 triliun.
Nilai tersebut mencakup pembayaran pajak, royalti, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta peningkatan penerimaan fiskal dari sektor-sektor terkait.
"Dari perspektif eksternal, aktivitas ekspor Perseroan juga berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap neraca pembayaran Indonesia," ujar Uka.
Total ekspor AMNT tercatat mencapai USD10,29 miliar selama periode kajian, yang menghasilkan penghematan devisa bersih sebesar USD7,66 miliar, atau rata-rata USD1,09 miliar per tahun.
Temuan ini mengindikasikan peran AMMAN dalam memperkuat stabilitas eksternal dan cadangan devisa Indonesia.
Sementara dalam aspek ketenagakerjaan, aktivitas AMNT rata-rata menghasilkan sekitar 55 ribu lapangan kerja per tahun secara nasional.
Angka ini mencapai puncaknya pada 2024, dengan lebih dari 105 ribu kesempatan kerja. Penciptaan lapangan kerja tidak hanya berasal dari kegiatan operasional langsung perusahaan, tapi juga melalui efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor-sektor ekonomi lain yang terhubung langsung dan tidak langsung dalam rantai pasok domestik.
Ke depan, LPEM FEB UI menilai bahwa beroperasinya smelter tembaga AMNT diharapkan akan semakin meningkatkan nilai tambah domestik, memperkuat hilirisasi industri mineral nasional, dan mendorong perkembangan industri hilir berbasis logam seperti elektronik, energi, dan manufaktur.
"Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan penguatan ekosistem industri hilir, Perseroan berpotensi menjadi salah satu pendorong struktur ekonomi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan dan inklusif," ujar Uka.
(taufan sukma)