Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS kembali menguat, sehingga membatasi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan pelaku pasar institusional cenderung pesimistis terhadap prospek emas jangka pendek.
Dari 14 analis Wall Street yang disurvei, sebanyak 79 persen memperkirakan harga emas kembali melemah dalam sepekan ke depan, hanya 7 persen yang memprediksi kenaikan, sementara sisanya memperkirakan pergerakan mendatar.
Kepala strategi mata uang investingLive, Adam Button, menilai tekanan jual di pasar saham teknologi berpotensi meluas menjadi aksi “sell everything” yang turut menyeret harga emas.
Menurut dia, risiko tersebut membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko maupun aset lindung nilai.