AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Harga Minyak Tebus 89,05 per Barel, Tertinggi Selama Tujuh Tahun Terakhir

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Rabu, 19 Januari 2022 13:23 WIB
Masalah geopolitik di Rusia dan Uni Emirat Arab (UEA) serta meledaknya pipa ekspor minyak Irak mendorong harga minyak ke level USD89,05 per barel.
Harga Minyak Tebus 89,05 per Barel, Tertinggi Selama Tujuh Tahun Terakhir (FOTO: MNC Media)
Harga Minyak Tebus 89,05 per Barel, Tertinggi Selama Tujuh Tahun Terakhir (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Masalah geopolitik di Rusia dan Uni Emirat Arab (UEA) serta meledaknya pipa ekspor minyak Irak mendorong harga minyak ke level USD89,05 per barel. Angka ini merupakan yang tertinggi selama tujuh tahun terakhir.

Pada perdagangan Rabu siang (19/1/2022) hingga pukul 12:48 WIB, minyak mentah berjangka jenis Brent naik 0,98 persen di USD88,37/barel, dan sempat menyentuh area USD89,05/barel. Kenaikan Brent ini menambah reli 1,2 persen pada sesi sebelumnya, yang notabene tertinggi sejak 13 Oktober 20214.

Adapun West Texas Intermediate (WTI) naik 1,06 persen di USD85,73/barel, menambah penguatan 1,9 persen pada perdagangan Selasa lalu (18/1). WTI sebelumnya sempat melejit hingga menembus harga USD87,08/barel, tertinggi sejak 9 Oktober 2014.

Harga komoditas ini memanas setelah regulator penyaluran minyak negara Turki mengumumkan pemutusan aliran minyak di pipa Kirkuk-Ceyhan setelah terjadi ledakan. Sampai berita ini diturunkan, masih belum diketahui penyebab insiden tersebut.

Diketahui pipa penyalur tersebut merupakan area vital bagi kedua negara yang merupakan medan ekspor minyak mentah dari Irak menuju pelabuhan Turki di Ceyhan. Irak adalah produsen terbesar kedua di Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC).

Analis memperkirakan akan timbul kerugian menyusul peristiwa tersebut dengan proyeksi pengetatan bakal berlanjut. Lebih jauh, permintaan minyak dinilai masih tetap tinggi meskipun dibayangi dampak varian virus Omicron.

Di tengah panasnya harga, ketegangan sejumlah negara pemasok yakni Rusia dan Uni Emirat Arab (UEA) turut memicu kekhawatiran persediaan minyak. Rusia yang merupakan produsen minyak terbesar kedua di dunia dikabarkan sedang bersitegang di perbatasan Ukraina. Sementara UEA, produsen terbesar ketiga OPEC, baru saja mendapat serangan di Abu Dhabi dari gerakan Houthi dari Yaman.

UEA pada Selasa malam (18/1) telah menyerukan adanya pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) untuk mengutuk serangan yang terjadi di Abu Dhabi pada hari Senin oleh gerakan Houthi dari Yaman. Sementara pasukan Rusia masih berbaris di area perbatasan Ukraina dan bersiap melakukan serangan.

Pihak Gedung Putih menyebut kedua krisis tersebut sangat berbahaya dan mengatakan Rusia dapat menyerang kapan saja.

Ketegangan kedua produsen minyak tersebut dinilai bakal semakin besar ketika OPEC dan sekutunya Rusia sedang mengalami kesulitan memenuhi target yang disepakati untuk menambah pasokan 400.000 barel per hari setiap bulan.

"OPEC+ gagal mencapai kuota produksi mereka dan jika ketegangan geopolitik terus memanas, minyak mentah Brent mungkin akan tembus USD100 per barel," kata analis OANDA Edward Moya dalam sebuah catatan, dilansir Reuters, Rabu (19/1/2022).

Analis komoditas Commonwealth Bank Vivek Dhar mengatakan pembukaan penerbangan internasional di banyak negara akan membuat konsumsi bahan bakar pesawat meningkat.

"Keterbatasan pasokan OPEC+ dan peningkatan permintaan minyak global kemungkinan akan membuat harga minyak bergerak naik dalam beberapa bulan mendatang," tukas Dhar. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD