IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memangkas pelemahan tajam pada perdagangan Kamis (29/1/2026) setelah otoritas pasar merespons kekhawatiran Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu investability pasar modal Indonesia.
IHSG yang sempat anjlok hingga 10,07 persen secara intraday, akhirnya ditutup di level 8.232,2 atau turun terbatas 1,06 persen.
Rebound ini dipicu oleh pernyataan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menanggapi evaluasi MSCI, khususnya terkait transparansi kepemilikan saham dan free float emiten.
Dalam penjelasannya, self-regulatory organization (SRO) menegaskan komitmen untuk meningkatkan transparansi data kepemilikan emiten sesuai dengan standar MSCI.
Data tersebut mencakup perhitungan free float yang mengecualikan kepemilikan kategori korporasi dan others, rincian kepemilikan saham di atas dan di bawah 5 persen, serta pengungkapan ultimate beneficial owner untuk emiten-emiten yang tergabung dalam indeks IDX100.
SRO juga menyatakan telah menyerahkan data kepemilikan yang lebih rinci kepada MSCI dan saat ini menunggu hasil proses review.
Target penyelesaian isu transparansi ini dipatok pada Maret 2026, lebih cepat dari tenggat waktu yang diberikan MSCI hingga Mei 2026.
Selain itu, BEI dijadwalkan akan menemui langsung MSCI pada Senin (2/2/2026) guna menegaskan komitmen koordinasi serta memastikan keselarasan pemahaman dalam implementasi peningkatan transparansi informasi pasar.
Langkah selanjutnya, menaikkan ketentuan minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Aturan ini akan berlaku baik bagi emiten baru yang akan melantai di bursa maupun emiten yang telah tercatat.
Bagi emiten existing yang tidak mampu memenuhi ketentuan tersebut dalam jangka waktu tertentu, SRO akan menyiapkan exit policy, dengan rincian kebijakan dijadwalkan diumumkan pada bulan depan.
Merespons langkah tersebut, juru bicara MSCI mengatakan kepada Bloomberg bahwa MSCI akan terus berinteraksi dengan otoritas dan pelaku pasar di Indonesia serta memantau perkembangan pasar secara berkelanjutan.
Sebelumnya, kekhawatiran MSCI terhadap investability pasar Indonesia telah memicu tekanan hebat di pasar saham domestik, dengan IHSG anjlok 8,3 persen dalam dua hari perdagangan.
Tekanan semakin besar setelah Goldman Sachs menurunkan pandangan pasar Indonesia menjadi underweight. Goldman memperkirakan potensi arus keluar dana lebih dari USD13 miliar atau sekitar Rp218 triliun jika status Indonesia diturunkan dari emerging market menjadi frontier market.
Potensi arus keluar tersebut mencakup penjualan sekitar USD7,8 miliar dari dana berbasis indeks MSCI, serta tambahan USD5,6 miliar jika FTSE Russell turut meninjau ulang metodologi free float.
Risiko ini dinilai dapat mendorong investor jangka panjang melakukan rebalancing portofolio, sekaligus membuka ruang bagi arus spekulatif dari hedge fund.
Meskipun MSCI memberikan waktu hingga Mei 2026, Stockbit pada Kamis (29/1/2026) menilai perkembangan terkait status pasar modal RI bisa diumumkan lebih awal, mengingat SRO menargetkan penyelesaian isu transparansi pada Maret 2026.
Oleh karena itu, investor perlu mencermati secara ketat setiap pembaruan dari MSCI serta progres implementasi kebijakan yang dilakukan oleh OJK dan BEI dalam beberapa bulan ke depan.
(DESI ANGRIANI)