Tekanan terbesar datang dari saham-saham konglomerasi serta bank-bank berkapitalisasi jumbo.
Di pasar valuta asing, rupiah juga kembali tertekan dan sempat melemah lebih dari 1 persen ke level Rp17.668 per USD pada perdagangan pagi.
Mengutip laporan Reuters, pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik, transparansi pasar, serta independensi bank sentral.
Sentimen eksternal turut memperburuk tekanan pasar setelah konflik Iran-AS kembali memicu ketidakpastian global dan mendorong harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Kondisi tersebut memicu aksi hindari risiko (risk off) terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.