AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Intiland (DILD) Catatkan Pendapatan Rp1,82 Triliun, Turun 11,5 Persen

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Sabtu, 20 November 2021 21:05 WIB
PT Intiland Development Tbk (DILD) mengalami penurunan pendapatan sebesar 11,5% year on year.
Intiland (DILD) Catatkan Pendapatan Rp1,82 Triliun, Turun 11,5 Persen. (Foto: MNC Media)
Intiland (DILD) Catatkan Pendapatan Rp1,82 Triliun, Turun 11,5 Persen. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - PT Intiland Development Tbk (DILD) mengalami penurunan pendapatan sebesar 11,5% year on year. Di mana tercatat pemasukan perserian menjadi Rp1,82 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,06 triliun.

Secara keseluruhan, laba bersih (net-income) turun drastis sebesar -295,8% atau rugi Rp77,2 miliar dibandingkan laba Rp39,5 miliar pada periode yang sama tahun 2020. Dengan demikian, laba per saham perseroan minus Rp7,5 dari 3,8.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang diunggah di Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (20/11/2021), penjualan properti menyumbang pendapatan perseroan senilai total Rp1,12 triliun, tetapi masih menurun -15,0% yoy dibandingkan periode yang sama 2020 sejumlah Rp1,31 triliun.

Secara lebih rinci, penjualan proyek mixed use (bangunan multi fungsi) dan bangunan vertikal (high rise) mencapai Rp467,1 miliar, turun -52,81% yoy dari Rp990,2 miliar, penjualan perumahan naik 15,12% yoy mencapai Rp379,2 miliar dari Rp329,4 miliar. Selanjutnya, ditambah penjualan properti di kawasan industri sebesar Rp275,8 miliar.

Dampak penerapan standar akuntansi baru mengalami penurunan sebesar -28,3% mencapai Rp220,3 miliar dari Rp307,3 miliar.

Sementara itu, pendapatan usaha DILD meningkat 10,93% yoy mencapai total Rp485,4 miliar dari Rp437,6 miliar pada periode sebelumnya.

Lebih detil, pendapatan usaha fasilitas naik 4,96% yoy mencapai Rp231,8 miliar dari Rp220,8 miliar. Usaha perkantoran juga naik 17,99% yoy sebesar Rp187,0 miliara dari Rp158,5 miliar.

Pendapatan usaha kawasan industri juga meningkat 12,85% yoy sebesar Rp65,28 miliar dari Rp57,85 miliar. Sedangkan usaha lain-lain turut melambung 257,37% yoy sebesar Rp1,3 miliar dari Rp366 juta.

Pendapatan dalam proyek mixed-use atau bangunan multi-fungsi dan proyek high-rise atau bangunan vertikal dihasilkan dari penjualan properti di Aeropolis, Rosebay, Graha Golf, 1Park Avenue, Spazio Tower, Praxis, dan Regatta.

Pendapatan yang diperoleh dari segmentasi hunian tapak berasal dari penyerahan unit rumah di Graha Natura, Talaga Bestari, Magnolia, dan Graha Famili.

Sementara pendapatan dari segmen kawasan industri sebagian besar berasal dari penjualan kavling lahan industri di Batang Industrial Park dan Ngoro Industrial Park.

Terakhir, pendapatan berulang dari usaha persewaan berasal dari fasilitas olahraga, penyewaan ruang kantor, gerai, hingga bangunan pabrik di kawasan industri.

Posisi aset DILD mengalami peningkatan 2,2% sebesar Rp16,04 triliun dibandingkan periode yang berakhir pada 31 Desember 2020 sejumlah Rp15,70 triliun.

Total liabilitas perseroan juga meningkat 4,6% mencapai Rp10,1 triliun dari Rp9,65 triliun pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2020. Sementara total ekuitas perseroan turun -1,7% mencapai Rp5,94 triliun dari Rp6,04 triliun. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD