sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Limpahan Data Center Regional, DCII hingga DSSA Jadi Sorotan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
18/08/2026 06:24 WIB
Indonesia dinilai berpeluang besar menangkap limpahan permintaan data center (DC) dari Singapura dan Malaysia.
Limpahan Data Center Regional, DCII hingga DSSA Jadi Sorotan. (Foto: Getty Images)
Limpahan Data Center Regional, DCII hingga DSSA Jadi Sorotan. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Indonesia dinilai berpeluang besar menangkap limpahan permintaan data center (DC) dari Singapura dan Malaysia, seiring keterbatasan lahan, listrik, dan air di kedua negara tersebut.

Dengan biaya pembangunan yang lebih rendah, kebijakan investasi yang relatif terbuka, serta potensi pengembangan kapasitas listrik yang besar, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan DC di kawasan.

Analis UOB Kay Hian Andrew Agita Buntoro dan tim menyebut Indonesia berada dalam posisi strategis untuk menjadi penerima gelombang ekspansi DC berikutnya.

Dalam riset yang terbit pada 14 Agustus 2026, mereka menilai tekanan kapasitas di Singapura dan Malaysia akan mendorong migrasi permintaan ke Indonesia.

Singapura sebelumnya telah mengalami moratorium pembangunan DC pada 2019-2022 karena keterbatasan lahan, listrik, dan air. Setelah moratorium berakhir, pemerintah Singapura menerapkan skema Data Centre Call for Application (DC-CFA) dengan persyaratan keberlanjutan yang lebih ketat.

Limpahan permintaan kemudian banyak mengalir ke Johor, Malaysia, karena lokasinya dekat dengan Singapura, biaya pengembangan lebih murah, dan ketersediaan lahan lebih luas.

Namun, pertumbuhan pesat tersebut mulai menekan sumber daya setempat. Malaysia pun memperketat penyaringan kebutuhan listrik dan air untuk proyek DC, sementara Johor membatasi fasilitas yang membutuhkan konsumsi air tinggi pada 2026.

Menurut UOB Kay Hian, kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia yang memiliki pasar besar namun penetrasi DC masih relatif rendah.

Sejumlah operator internasional seperti DayOne, Princeton, AirTrunk, dan NTT telah memperluas kehadiran di Indonesia. Di sisi domestik, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), dan Sinar Mas juga tengah mengembangkan pipeline DC dalam skala besar.

Dari sisi biaya, Jakarta memiliki keunggulan dibandingkan Singapura. Biaya pembangunan DC di Jakarta pada 2025 tercatat sekitar USD11,21 per watt, dibandingkan USD14,53 per watt di Singapura.

Artinya, biaya pembangunan di Jakarta sekitar 23 persen lebih rendah, berdasarkan data Turner & Townsend.

Indonesia juga menawarkan fleksibilitas kepemilikan asing untuk sejumlah aktivitas terkait DC serta berbagai insentif investasi.

Di Batam, keberadaan Nongsa Digital Park sebagai kawasan ekonomi khusus turut menyediakan infrastruktur DC dan konektivitas kabel bawah laut yang mendukung pengembangan ekosistem digital.

Namun, UOB mengingatkan, ketersediaan listrik dapat menjadi salah satu hambatan utama bagi ekspansi DC Indonesia.

Kapasitas pembangkit terpasang Indonesia mencapai 107,5 gigawatt (GW) pada 2025, tetapi cadangan daya dalam jangka pendek relatif terbatas.

Pada periode Ramadan-Idulfitri 2026, Kementerian ESDM memproyeksikan beban puncak sebesar 47,2 GW, sementara daya mampu pasok (DMP) mencapai 51,6 GW. Dengan demikian, cadangan daya hanya sekitar 4,4 GW atau 9,3 persen.

Kondisi di sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali) juga menunjukkan ruang yang tidak terlalu besar.

Pada puncak 2025, daya mampu pasok mencapai 38 GW dibandingkan beban puncak 34,1 GW, menyisakan cadangan sekitar 3,9 GW atau 11,3 persen.

Batam bahkan lebih ketat. PLN Batam mencatat daya mampu pasok bersih sekitar 881 megawatt (MW), sementara beban puncak mencapai sekitar 761 MW pada Maret 2026.

Artinya, cadangan hanya sekitar 120 MW sehingga pembangunan DC berskala besar di Batam akan membutuhkan tambahan pembangkit dan investasi jaringan.

Meski demikian, kapasitas listrik Indonesia diproyeksikan terus bertambah.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan sebesar 69,5 GW, terdiri dari 42,6 GW energi terbarukan, 10,3 GW penyimpanan energi, dan 16,6 GW pembangkit berbasis fosil.

DCII hingga DSSA Berpotensi Cuan

UOB Kay Hian melihat sejumlah emiten sebagai penerima manfaat langsung dari pertumbuhan DC.

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dinilai menjadi eksposur paling murni di pasar saham, dengan kapasitas terpasang sekitar 119 MW pada awal 2026.

DCII juga memiliki rencana ekspansi hingga 300 MW di Cibitung dan 600 MW di Karawang, meski komitmen pasokan listrik untuk kapasitas masa depan tersebut belum diungkapkan.

Sementara itu, TLKM melalui NeutraDC menargetkan kapasitas DC mencapai 500 MW pada 2030.

Salah satu proyek utamanya adalah kampus NeutraDC Nxera Batam berkapasitas 51 MW yang telah mengamankan pasokan listrik sekitar 79 MW dari PLN.

ISAT juga memiliki eksposur besar terhadap infrastruktur AI melalui Lintasarta dan kemitraannya dengan BDx.

BDx telah mengamankan komitmen listrik sekitar 1,2 GW dari PLN untuk tiga kampus di Jawa, termasuk kampus AI NVIDIA DGX-Ready CGK4 di Jatiluhur berkapasitas 650 MW dan CGK5 di Suryacipta (SSIA), Jawa Barat, sebesar 300 MW.

ISAT juga memiliki saham minoritas di platform infrastruktur AI Zankore yang menargetkan kapasitas hingga 1 GW, dengan sekitar 200 MW ditargetkan mulai dikembangkan pada semester I-2027.

Kemudian, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melalui SM+ mengoperasikan dan mengembangkan sekitar 40 MW kapasitas IT load di 25 DC.

Salah satunya adalah SMX01 di Jakarta, fasilitas Tier IV yang AI-ready dengan kapasitas awal 18 MW dan dapat ditingkatkan hingga 60 MW. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026.

Selanjutnya, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melalui Sinergi Inti Data Indonesia (SIDI) saat ini mengelola sekitar 1 MW di Gedung Cyber I dan berencana membangun green data center di Purwakarta pada lahan seluas 180-200 hektare yang ditargetkan beroperasi pada kuartal III-2026.

Dari sisi profitabilitas, operator DC yang berfokus pada hyperscaler (HS) umumnya mampu menghasilkan margin EBITDA sekitar 50-60 persen. Bisnis neo-cloud ISAT bahkan menargetkan margin EBITDA sekitar 80 persen, mencerminkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dari infrastruktur AI dan GPU.

“Secara keseluruhan, DCII menawarkan eksposur paling murni terhadap bisnis data center, sementara TLKM, ISAT, DSSA, dan INET memberikan eksposur yang lebih luas, mencakup data center, konektivitas, AI, hingga infrastruktur kelistrikan,” tulis analis UOB.

Power, Konstruksi, hingga Kawasan Industri Ikut Menikmati

Dampak ekspansi DC tidak hanya dirasakan oleh operator pusat data. Kebutuhan listrik, pembangunan fasilitas, lahan industri, serta konektivitas juga menciptakan peluang bagi emiten lain.

PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) menjadi salah satu penerima manfaat yang dinilai paling menarik. Per Maret 2026, pelanggan DC menyumbang sekitar 215 MW kapasitas kontrak POWR.

Kapasitas DC yang telah dialiri listrik diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 425 MW pada 2028, atau tumbuh dengan CAGR sekitar 34 persen.

Dengan kapasitas pembangkit sekitar 1,19 GW dan tingkat utilisasi sekitar 67 persen, POWR memiliki ruang untuk menangkap pertumbuhan permintaan listrik dari DC.

Di sektor energi terbarukan, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dapat menjadi alternatif eksposur terhadap meningkatnya kebutuhan listrik rendah karbon.

Hal ini semakin relevan karena operator DC global memiliki target emisi yang ketat dan membutuhkan akses terhadap energi terbarukan.

Di sektor konstruksi, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dinilai menjadi salah satu emiten yang memiliki posisi kuat karena kemampuan mechanical, electrical, and plumbing (MEP), fit-out, serta pengalaman membangun DC melalui Jaya Obayashi.

Pertumbuhan beban AI juga akan meningkatkan kebutuhan trafik data dan jaringan fiber. Kondisi tersebut berpotensi menguntungkan TLKM, ISAT, INET, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan Dayamitra Telekomunikasi (MTEL).

Sementara itu, pengembangan kawasan industri juga berpotensi mendapatkan manfaat. Cikarang menjadi klaster utama DC karena kedekatan dengan Jakarta, kebutuhan latensi rendah, serta ketersediaan captive power.

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), misalnya, mencatat sekitar 70 persen inquiry lahan berasal dari perusahaan DC.

Namun, landbank industri DMAS telah berada di bawah 150 hektare per 31 Maret 2026. Keterbatasan lahan tersebut berpotensi mengalihkan permintaan ke PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) di MM2100 dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA).

Batam menjadi klaster lain yang berkembang cepat karena limpahan dari Singapura. Nongsa Digital Park memiliki luas 166 hektare dan berjarak sekitar 35 menit dari Singapura, serta terhubung dengan lebih dari 15 kabel bawah laut.

Sejumlah proyek telah memiliki komitmen kapasitas, termasuk kampus DayOne sebesar 72 MW dan tahap awal Data Center First sebesar 30 MW. Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Sauh seluas 841 hektare juga diposisikan untuk mendukung kebutuhan listrik dan logistik.

Risiko Tetap Mengintai

Meski prospeknya besar, UOB Kay Hian menilai tesis pertumbuhan DC Indonesia tidak bebas risiko.

Regulasi terkait listrik, air, lahan, dan keberlanjutan berpotensi semakin ketat seiring meningkatnya skala investasi.

Selain itu, dominasi batu bara dalam bauran listrik Jawa dapat menjadi hambatan bagi hyperscaler global yang memiliki target net zero ketat.

Operator perlu mengandalkan Renewable Energy Certificates (REC) atau kontrak pembelian listrik hijau secara langsung untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Risiko eksekusi juga menjadi perhatian, terutama dalam pembangunan kampus AI berskala besar dan kemampuan menarik pelanggan utama.

Jika belanja modal kecerdasan buatan (AI) global melambat, utilisasi GPU atau permintaan cloud melemah, ekspansi kapasitas DC dapat tertunda.

Risiko lainnya adalah potensi penurunan valuasi. UOB menilai pengalaman sektor menara telekomunikasi pada siklus investasi 5G dapat menjadi preseden.

Multiple sektor tersebut sempat tertekan meski EBITDA tetap tumbuh, akibat kenaikan suku bunga, konsolidasi operator, dan perlambatan pertumbuhan organik.

Saat ini, operator DC global terkemuka diperdagangkan sekitar 25 kali EV/EBITDA dan telah mencerminkan ekspektasi tinggi terhadap keberlanjutan belanja AI dan hyperscaler.

Karena itu, ketika pasokan DC meningkat dan pasar mulai memiliki visibilitas lebih baik terhadap utilisasi, imbal hasil, serta realisasi permintaan AI, sektor ini berpotensi memasuki fase yang lebih matang.

Dalam kondisi tersebut, multiple dapat tertekan meski EBITDA terus tumbuh. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Advertisement
Advertisement