sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Momentum Saham Rokok Meredup, Efek Margin Mulai Terbatas

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
30/06/2026 06:36 WIB
Industri rokok diperkirakan mulai kehilangan dorongan dari ekspansi margin setelah dampak positif pembekuan cukai hasil tembakau (CHT) mulai tercermin.
Momentum Saham Rokok Meredup, Efek Margin Mulai Terbatas. (Foto: Magnific)
Momentum Saham Rokok Meredup, Efek Margin Mulai Terbatas. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Industri rokok diperkirakan mulai kehilangan dorongan dari ekspansi margin setelah dampak positif pembekuan cukai hasil tembakau (CHT) mulai tercermin dalam kinerja perusahaan.

Sementara itu, tekanan terhadap volume penjualan masih berlanjut sehingga prospek pertumbuhan laba ke depan dinilai semakin terbatas.

Sucor Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pada 29 Juni 2026 menurunkan rekomendasi sektor tembakau Indonesia menjadi netral serta memangkas rekomendasi saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menjadi hold.

Analis Sucor Sekuritas Giovanus Marcell Lie menyebut penurunan rekomendasi tersebut bukan karena pandangan bahwa kebijakan pembekuan cukai keliru.

Sebaliknya, kebijakan tersebut dinilai berhasil mendorong ekspansi margin perusahaan rokok. Namun, efek positif tersebut kini telah banyak diperhitungkan pasar.

Menurut Giovanus, pembekuan cukai hingga 2027 memberikan dampak berupa perubahan tingkat margin, bukan menjadi sumber pertumbuhan berkelanjutan.

Ketika tarif cukai tidak naik, kenaikan harga jual rokok dapat langsung meningkatkan keuntungan karena biaya cukai tetap.

Kondisi tersebut mendorong peningkatan margin yang terlihat sejak kuartal I-2026. Namun, manfaat tersebut hanya terasa pada periode awal, sementara pada tahun berikutnya tidak lagi memberikan tambahan peningkatan margin.

Pembekuan cukai memang meningkatkan margin, kata Giovanus, tetapi tidak mengubah tren volume.

Sucor Sekuritas menilai konsumsi rokok masih menghadapi tekanan meski kebijakan pembekuan cukai meningkatkan keterjangkauan harga.

Produksi rokok kretek mesin premium tercatat terus mengalami penurunan, dengan produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) Golongan I turun dari 118,2 miliar batang menjadi 96,52 miliar batang.

Sebaliknya, segmen rokok tangan dengan harga lebih rendah justru mengalami peningkatan.

Produksi SKT Golongan III naik dari 59,42 miliar batang menjadi 67,34 miliar batang. Hal ini menunjukkan konsumen cenderung beralih ke produk yang lebih murah, bukan meningkatkan konsumsi secara keseluruhan.

Menurut Sucor Sekuritas, manfaat pembekuan cukai lebih banyak tercermin pada peningkatan margin produsen dibandingkan penurunan harga bagi konsumen.

Akibatnya, laba perusahaan dapat tumbuh meski volume industri terus mengalami kontraksi.

"Ini merupakan bentuk pertumbuhan laba dengan kualitas yang lebih rendah, karena didorong ekspansi margin di tengah basis volume yang terus mengecil," ujar Giovanus.

Sucor Sekuritas memperkirakan momentum pertumbuhan laba industri rokok pada 2026 berbalik menghadapi tekanan pada 2027-2028.

Dengan berakhirnya efek positif pembekuan cukai dan belum adanya tanda stabilisasi volume, ruang kenaikan valuasi saham rokok dinilai semakin terbatas.

Karena itu, Sucor Sekuritas memangkas estimasi laba dan target harga kedua saham tersebut.

Proyeksi laba HMSP diturunkan sebesar 2 persen-4 persen, dengan perkiraan 2026 relatif tidak berubah, sedangkan estimasi laba WIIM dipangkas lebih besar, yakni 6 persen-12 persen.

Sucor Sekuritas menyatakan akan kembali lebih konstruktif terhadap sektor tembakau apabila terdapat bukti bahwa volume penjualan mulai stabil atau peralihan dari rokok ilegal ke produk legal mampu meningkatkan volume industri. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement