Selain itu, emiten berkapitalisasi kecil dengan likuiditas tipis juga menghadapi tantangan tersendiri. Meski bersedia melepas saham, belum tentu pasar memiliki permintaan yang cukup untuk menyerap tambahan pasokan secara optimal.
Faktor eksternal turut menjadi pertimbangan. Dalam kondisi sentimen global yang belum stabil dipengaruhi tekanan geopolitik, suku bunga tinggi, maupun arus dana asing keluar, emiten cenderung menunda aksi korporasi seperti secondary offering atau private placement.
“Artinya, target 49 perusahaan tahun ini yang harus memenuhi free float 15 persen berpotensi menghadapi tekanan dari sisi timing. Reformasi struktural bertemu dengan siklus pasar yang belum tentu mendukung,” ujarnya.
Meski demikian, Hendra menilai kebijakan tersebut memiliki tujuan jangka panjang yang positif. Semakin besar porsi free float suatu emiten, likuiditas saham akan semakin sehat dan harga lebih mencerminkan mekanisme pasar yang wajar.
Dengan free float yang lebih besar, ruang manipulasi harga dinilai menyempit, volatilitas ekstrem dapat ditekan, serta investor institusi termasuk investor asing akan lebih nyaman untuk masuk.