AALI
9675
ABBA
314
ABDA
6975
ABMM
1360
ACES
1260
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3450
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2280
AGAR
360
AGII
1410
AGRO
1320
AGRO-R
0
AGRS
152
AHAP
68
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1075
AKRA
735
AKSI
660
ALDO
1405
ALKA
294
ALMI
288
ALTO
274
Market Watch
Last updated : 2022/01/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
508.18
0.2%
+0.99
IHSG
6645.51
0.52%
+34.35
LQ45
949.77
0.29%
+2.75
HSI
23550.08
-1.08%
-256.92
N225
26717.34
2.09%
+547.04
NYSE
0.00
-100%
-16236.51
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,364
Emas
829,485 / gram

Rupiah Sore Ini Ditutup Melemah di Rp14.232 per USD

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Jum'at, 19 November 2021 16:49 WIB
Rupiah ditutup turun 12 poin atau -0,08% di harga Rp14.232 per 1 Dolar AS pada perdagangan sore ini, Jumat (19/11/2021).
Rupiah Sore Ini Ditutup Melemah di Rp14.232 per USD (Dok.MNC Media)
Rupiah Sore Ini Ditutup Melemah di Rp14.232 per USD (Dok.MNC Media)

IDXChannel -  Nilai mata uang Rupiah ditutup turun 12 poin atau -0,08% di harga Rp14.232 per 1 Dolar AS pada perdagangan sore ini, Jumat (19/11/2021). Data tersebut berdasarkan pasar spot Bloomberg Jumat (19/11/2021) hingga pukul 15:00 WIB.  

Lesunya rupiah berbeda dengan pasar modal saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup cemerlang sore ini di level 6.270.

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan Rupiah sore ini sejalan dengan kenaikan Dolar AS yang diperdagangkan lebih tinggi terhadap mata uang lainnya. Menilik RTI, indeks Dolar AS diperdagangkan di level USD95,90 atau naik 0,38%,

Menurut Ibrahim, investor saat ini masih fokus mencermati langkah Bank Sentral, terutama dalam merespons kenaikan tingkat inflasi dengan cara suku bunga.

"Federal Reserve AS saat ini tengah mempertimbangkan kenaikan suku bunga mengingat inflasi terus meningkat dan pemulihan ekonomi dari COVID-19 masih terus berlanjut. Data minggu sebelumnya juga menunjukkan bahwa inflasi naik ke level tertinggi dalam 30 tahun di bulan Oktober," kata Ibrahim, Jumat (19/11/2021).

Sementara itu, Presiden Fed Chicago Charles Evans, salah satu pembuat kebijakan bertipe dovish di bank sentral, mengatakan pada hari Kamis bahwa ia "berpikiran terbuka" untuk mengubah kebijakan moneter pada tahun 2022 jika inflasi terus tetap tinggi.  Kenaikan suku bunga pada 2022 bisa tepat jika inflasi tinggi terus berlanjut.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut momentum pemulihan ekonomi Indonesia masih tetap terjaga, meskipun juga sempat tertahan akibat lonjakan kasus Covid-19 varian delta.

"Berbagai lembaga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 dan 2022 mulai pulih, dengan adanya kondisi kasus harian Covid-19 global yang mulai melandai, aktivitas manufaktur global terus tumbuh ekspansif, harga komoditas meningkat seiring geliat permintaan global, dan outlook ekonomi yang diperkirakan masih solid ke depan," tandasnya.

Ke depan, Ibrahim mencermati bahwa dalam jangka pendek, pandemi Covid-19 dan variannya masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian global. Sementara, isu perubahan iklim juga menjadi tantangan bagi ekonomi global dalam jangka panjang.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD