Anindya menegaskan, saham bukan sekadar instrumen yang harganya naik dan turun dalam waktu singkat. Lebih dari itu, saham merepresentasikan proyeksi kinerja dan pertumbuhan perusahaan di masa depan yang seharusnya dapat dianalisis dan diperhitungkan secara masuk akal.
"Karena kan secara teori saham itu adalah kasarnya, net present value daripada pertumbuhan suatu perusahaan, atau harga sekarang dari pertumbuhan masa depan. Ini tidak sekadar harga naik dan turun, tapi ini merupakan proyeksi masa depan, sehingga proyeksi itu bisa dihitung," katanya.
Selain edukasi, Anindya juga menyoroti pentingnya komunikasi yang terbuka dan transparan dari emiten. Menurutnya, perusahaan harus menjaga kualitas dan fundamental usahanya, terlepas dari tingginya permintaan pasar terhadap saham tertentu.
"Tapi memang ini yang paling penting komunikasi terbuka. Dan memang kita mesti jaga baik dari sisi supply-nya yaitu perusahaannya sendiri apapun demand-nya. Jangan juga demand-nya pun, supply-nya nanti tidak bisa terisi. Tapi jangan juga terbawa animo untuk semata-mata short term payment," kata Anindya.
(Dhera Arizona)