Di sisi lain, biaya sulfur untuk industri High Pressure Acid Leach (HPAL) diperkirakan masih bertahan tinggi. Berbeda dengan minyak dan aluminium, harga sulfur bergerak lebih lambat karena tidak memiliki pasar finansial yang aktif sebagai acuan.
Berdasarkan diskusi Indo Premier dengan pelaku industri HPAL, hanya sebagian kecil transaksi yang terjadi pada harga puncak USD1.200 per ton. Rata-rata biaya sulfur pada kuartal II-2026 diperkirakan berada di kisaran USD900-1.000 per ton.
Selain faktor global, perhatian pasar kini juga tertuju pada kebijakan pemerintah terkait kenaikan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan.
Indo Premier menilai isu lain seperti skema gross split untuk sektor pertambangan maupun kenaikan tarif royalti sebagian besar telah tercermin pada harga saham.
Fokus investor kini beralih pada keputusan Kementerian ESDM mengenai tambahan kuota produksi.