Dampaknya, harga minyak Brent kembali turun ke kisaran USD70 per barel, diikuti pelemahan harga batu bara Newcastle dan ICI sejak akhir Juni.
Meski demikian, Indo Premier menilai The Fed masih berpotensi mempertahankan kebijakan hawkish dalam jangka pendek.
Alasannya, kenaikan biaya energi sebelumnya diperkirakan masih tercermin pada data inflasi AS beberapa bulan ke depan, mengingat komponen energi menjadi penyumbang terbesar kenaikan inflasi Consumer Price Index (CPI).
Tidak hanya minyak, komoditas yang sebelumnya diuntungkan oleh konflik geopolitik juga mulai kehilangan momentum. Harga aluminium, misalnya, turun sekitar 19 persen secara bulanan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat rata-rata harga jual (ASP) aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pada 2026 berada di kisaran bawah proyeksi, sekitar USD3.000 per ton, jauh di bawah puncaknya yang sempat mencapai sekitar USD3.700 per ton.