Sejumlah perusahaan, termasuk PT Vale Indonesia Tbk (INCO), mengajukan tambahan kuota produksi bijih nikel seiring proyek HPAL Pomalaa yang diperkirakan mulai beroperasi pada kuartal III-2026.
Sementara itu, ADMR, PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga mengusulkan tambahan kuota untuk komoditas batu bara.
“Sejumlah perusahaan tambang lain juga diperkirakan mengusulkan tambahan kuota RKAB. Namun, pengaruhnya dinilai terbatas karena kuota yang ada saat ini telah mengakomodasi target produksi dan rencana penambangan masing-masing perusahaan,” kata kedua analis tersebut.
Berdasarkan kanal informasi yang dihimpun Indo Premier, Kementerian ESDM diperkirakan hanya menaikkan kuota RKAB bijih nikel menjadi sekitar 320-330 juta wet metric ton (wmt), lebih rendah dari rumor pasar yang menyebut angka 360 juta wmt.
Jika skenario tersebut terealisasi, keseimbangan pasokan dan permintaan bijih nikel diperkirakan membaik. Namun, kondisi itu juga berpotensi menekan harga bijih nikel domestik maupun harga nikel di London Metal Exchange (LME).