Sementara itu, inflasi inti produsen yang tidak memasukkan komponen makanan, energi, dan perdagangan naik 0,6 persen secara bulanan dan 4,4 persen secara tahunan, juga melampaui proyeksi analis.
Data tersebut muncul sehari setelah laporan inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) menunjukkan tekanan harga yang dipicu lonjakan harga energi akibat perang Iran.
Presiden dan Chief Investment Officer Bellwether Wealth, Clark Bellin menilai, kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel mulai memberikan dampak luas terhadap biaya produksi.
"Produsen mulai merasakan efek rambatan dari minyak di level USD100 per barel yang meningkatkan biaya produksi secara luas karena energi merupakan salah satu komponen biaya paling penting," ujarnya.
Bellin menambahkan, The Fed kini menghadapi tantangan besar karena inflasi tetap tinggi di saat pasar tenaga kerja mulai melambat. Situasi tersebut dinilai semakin kompleks menjelang pergantian pimpinan bank sentral AS.