Konsep ini mengadopsi pendekatan yang sudah diterapkan di beberapa negara dan didukung oleh organisasi kesehatan global seperti World Health Organization, yang mendorong transparansi informasi gizi bagi masyarakat.
Nutri-level membantu masyarakat memahami kandungan gizi tanpa harus membaca label yang rumit. Dengan informasi yang lebih jelas, masyarakat diharapkan bisa membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Dengan kebijakan Nutri Level ini, produsen makanan akan terdorong untuk memperbaiki komposisi produknya agar mendapat nilai nutri-level yang lebih baik.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Nutri-level biasanya bekerja dengan sistem penilaian berdasarkan kandungan nutrisi utama, seperti gula, garam (natrium), lemak jenuh, kalori total, serat dan protein (sebagai nilai tambah).
Produk kemudian diberi skor atau kategori tertentu, biasanya menggunakan huruf A-B-C-D, dengan kategori ‘paling sehat’ hingga ‘perlu dibatasi.’ Semakin baik komposisi gizinya, semakin tinggi nilai nutri-level yang diberikan.