Total ada 2.440 pembeli yang melakukan transaksi dalam periode 2019–2024. Seluruh transaksi telah dikonfirmasi menggunakan aset kripto yang tercatat dalam riwayat pembelian. Sementara itu, ada 34.000 korban yang teridentifikasi pada Januari 2023 hingga April 2024.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.000 korban atau kurang lebih 50 persen terkonfirmasi mengalami peretasan atau account compromise, termasuk keberhasilan skrip dalam melewati mekanisme pengamanan berlapis atau Multi-Factor Authentication,” lanjut Himawan.
Lalu dari hasil analisis 157 korban, ditemukan bahwa 53 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat, sementara sisanya berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Dalam kelompok tersebut, turut teridentifikasi 9 entitas perusahaan dari Indonesia yang menjadi korban.
(Nadya Kurnia)