sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kemendagri Siapkan Solusi Relokasi Korban Banjir Bandang Aceh, Ada Opsi Bantuan Tunai

News editor Danandaya Arya Putra
08/01/2026 17:47 WIB
Tito Karnavian juga menyiapkan opsi bagi warga yang tidak mau direlokasi dengan bantuan uang tunai.
Kemendagri Siapkan Solusi Relokasi Korban Banjir Bandang Aceh, Ada Opsi Bantuan Tunai. (Foto: MNC Media)
Kemendagri Siapkan Solusi Relokasi Korban Banjir Bandang Aceh, Ada Opsi Bantuan Tunai. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan ada 25 desa di Aceh dan Sumatera Utara hilang tersapu banjir bandang dan longsor. Pemerintah juga menyiapkan solusi relokasi bagi warga yang desanya hilang.

“Ya, kalau hilangnya itu memang sudah tidak bisa lagi, otomatis kan harus direlokasi. Mereka harus dipindahkan, kita akan tentu harus nyari tempat untuk relokasi desa itu,” kata Tito dalam jumpa pers di kantornya, Kamis (8/1/2026).

Selain relokasi, Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di wilayah Sumatera itu juga menyiapkan solusi lain untuk warga. Yakni pemerintah akan memberikan Rp60 juta untuk membangun rumah tinggalnya secara pribadi. 

“Bisa saja yang bersangkutan tidak ingin relokasi, tetapi dia pindah ke tempat yang dia pilih sendiri. Kalau yang dipilih sendiri, otomatis dia akan diberikan biaya indeksnya kalau membangun sendiri, ya, Rp60 juta diberikan," sambungnya.

Tak hanya mendapatkan subsidi Rp60 juta, warga yang memilih untuk tidak direlokasi juga akan dimasukkan dalam daftar bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Juga tambahan Rp3 juta untuk perabotan dan Rp5 juta untuk perekonomian. 

Usulan ini, kata Tito, masih dalam pendataan agar penyaluran bisa tepat sasaran.

“Ada saran juga dimasukkan dalam daftar PKH setidaknya enam bulan. PKH artinya bantuan langsung tunai selama enam bulan. Nah, ini sedang dalam pendataan oleh kita," sambungnya.

Tito menjelaskan lokasi desa yang hilang pasca banjir bandang memang rawan bencana secara geologis. Maka dari itu pemerintah tidak menyarankan agar warga kembali membangun tempat tinggal di area yang sebelumnya hilang.

“Kan, hilangnya itu bisa saja terjadi longsor atau terjadi banjir bandang, kemudian sudah kering. Tapi kalau kembali ke situ lagi, mungkin kalau ada kejadian lagi, mudah-mudahan nggak, bisa rawan lagi,” tuturnya.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement