Serangkaian regulasi yang saat ini mengelilingi tembakau, mulai dari pembatasan penjualan, pembatasan iklan, standarisasi kemasan (kemasan polos) dan pembatasan kadar tar nikotin yang sedang hangat saat ini, menurut pandangan Kementan, berdampak pada serapan varietas tembakau lokal.
"Kementan berupaya melakukan peningkatan produksi dan pemanfaatan komoditas tembakau. Strategi ke depan penting memastikan agar komoditas ini dapat dibudidayakan dengan baik, dan kemauan pemerintah memperkuat riset hilirisasi sambil tetap melindungi kesejahteraan jutaan petani dan masyarakat," ucap dia.
Ditegaskan, Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Setiari Marwanto, terdapat banyak faktor penentu kadar nikotin tembakau. Mulai dari unsur generik, posisi daun pada batang, populasi tanaman, pemupukan dan pemangkasan.
Menurutnya, Indonesia belum siap dengan pembatasan rendahnya kadar tar dan nikotin seperti yang didorong saat ini.
"Kita belum siap dengan rendahnya kadar tar dan nikotin seperti yang didorong saat ini. Dengan kondisi saat ini, tidak ada varietas lokal kita yang kadar nikotinnya kurang dari 1 persen. Mulai dari varietas tembakau di Temanggung, Jember, Banyuwangi, rata-rata di kisaran 3 persen-8 persen," kata dia.
BRIN yang selama ini fokus di on farm, tahun lalu telah melepas 14 varietas tembakau. Termasuk membantu para mitra untuk melakukan perakitan varietas baru.
Pada tahun 2024, BRIN bersama Pemkab Temanggung meriset klon tembakau yang tahan genangan air dengan tetap memastikan tidak ada perubahan mutu sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik pada kondisi curah hujan tinggi.
"Kami juga sedang melakukan riset dengan Pemkab Temanggung yang tahan kering, masih membutuhkan waktu. Riset kami belum ke arah untuk menurunkan kadar tar dan nikotin. Harus diakui bahwa pemanfaatan tembakau di Indonesia memang lebih banyak untuk penggunaan rokok kretek," pungkasnya.