AALI
9975
ABBA
400
ABDA
0
ABMM
1450
ACES
1305
ACST
230
ACST-R
0
ADES
2950
ADHI
1025
ADMF
7700
ADMG
210
ADRO
1700
AGAR
340
AGII
1600
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
177
AHAP
65
AIMS
486
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
860
AKRA
3970
AKSI
416
ALDO
1020
ALKA
244
ALMI
246
ALTO
280
Market Watch
Last updated : 2021/11/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
497.28
-2.19%
-11.12
IHSG
6533.93
-1.13%
-74.36
LQ45
930.98
-2.07%
-19.70
HSI
-74.94
-100.31%
-23927.18
N225
346.43
-98.78%
-27937.49
NYSE
59.11
-99.64%
-16565.76
Kurs
HKD/IDR 1,834
USD/IDR 14,318
Emas
825,609 / gram

Agar Tak Salah Pilih, Investor Wajib Tahu Cara Baca Laporan Keuangan Perusahaan

ECONOMIA
Minggu, 15 Agustus 2021 13:09 WIB
Cara baca laporan keuangan sejatinya sudah harus diketahui dan dipahaim oleh seorang investor saham.
Agar Tak Salah Pilih, Investor Wajib Tahu Cara Baca Laporan Keuangan Perusahaan. (Foto:  Cara Baca Laporan Keuangan)
Agar Tak Salah Pilih, Investor Wajib Tahu Cara Baca Laporan Keuangan Perusahaan. (Foto: Cara Baca Laporan Keuangan)

IDXChannelCara baca laporan keuangan sejatinya sudah harus diketahui dan dipahaim oleh seorang investor saham. Bagi investor saham, membaca laporan keuangan atas saham yang dipegangnya hukumnya wajib untuk menambah keyakinan dalam berinvestasi.

Memahami dan mengetahui kinerja sebuah perusahaan dari laporan keuangannya juga disebut dengan analisa secara fundamental. Harga suatu saham perusahaan biasanya cenderung bergerak searah dengan fundamentalnya. Jika fundamentalnya baik, maka harganya akan cenderung naik, begitupun sebaliknya.

Membaca sebuah laporan keuangan sebenarnya susah-susah gampang, asalkan punya keinginan akan menguasainya juga lambat laun.

Secara garis besar ada empat laporan yang disampaikan suatu emiten dalam sebuah dokumen laporan keuangan baik triwulanan maupun tahunan yakni Laporan Neraca, Laporan Rugi Laba, Laporan Perubahan Modal, dan Laporan Arus Kas. Berikut cara cepat membaca laporan keuangan perusahaan yang dikutip dari bebagai sumber, Minggu (15/8/2021):

1. Laba bersih, dan/atau ekuitasnya naik
Perusahaan yang bagus, laba bersih atau laba periode berjalannya naik. Misalnya laba bersih dari periode 30 September 2020 dibanding 30 September 2019 terjadi kenaikan. Begitpula dengan total ekuitasnya.

2. Return on equity (ROE) di level 15% atau lebih
ROE adalah tingkat pengembalian investasi. Setiap keuntungan Rp 1.000, maka menghasilkan untung bersih minimal 15% atau lebih dalam setahun. ROE adalah indikator paling dasar dari analisis fundamental. Jika ROE-nya bagus, kemungkinan besar yang lain di laporan keuangan juga bagus. Tetapi kalau kurang dari 15%, artinya perusahaan itu tidak menguntungkan. Jadi, untuk apa sahamnya dibeli.

Contoh menghitung ROE:
Laba periode berjalan SIDO 30 September 2020 = Rp 640,8 miliar (9 bulan)
Total ekuitas = Rp 3,3 triliun
Jadikan laba periode berjalan 1 tahun = Rp 854,4 miliar
ROE    = Rp 854,4 miliar : Rp 3,3 triliun x 100 = 25,8%
Artinya setiap investasi Rp 1.000 di SIDO, menghasilkan untung bersih setahun sekitar Rp 250.

3. Membayar dividen 30-40% atau lebih, dari laba bersih perusahaan dalam setahun
Data pembayaran atau pembagian dividen ada yang tersaji di laporan keuangan, kadang juga tidak. Investor dapat mencari informasi tersebut di internet. Lihat total dividen yang dibagikan. Misalnya dari 80% perolehan laba bersih perusahaan di tahun 2018 sebesar Rp 500 miliar. Bukan melihat dividen tunai interim saja.

Data dividen ini sangat penting. Sebab, perusahaan bisa saja menuliskan laba bersih sekian rupiah, tetapi kalau tidak bayar dividen, perolehan laba tersebut dapat diragukan kebenarannya.

Bila pembayaran dividen kurang dari 30-40%, terlalu kecil. Investor berhak lebih dari itu. Namun kalau lebih dari angka di atas, bisa juga menunjukkan perusahaan tersebut sudah mature alias tidak bisa bertumbuh lagi. Akhirnya keuntungan dibagi ke investor. Lalu bagaimana sebaiknya? Cari perusahaan yang membayarkan dividen tidak terlalu besar, dan tidak kecil juga.

4. Utangnya kecil, atau maksimal sama dengan nilai ekuitasnya
Utang di dalam laporan keuangan biasanya disebut liabilitas. Jadi, jangan keder jika tidak ada tulisan utang. Kalau nilai liabilitas atau utangnya lebih besar dari nilai ekuitas harus hati-hati. Meski begitu, tidak semua laporan keuangan harus disamaratakan seperti itu. Karena ada saja yang dianggap wajar nilai utang sama dengan ekuitas.

5. Utang yang mengandung bunga (utang bank, obligasi) jumlahnya kecil
Perusahaan yang bagus adalah yang nilai utang mengandung bunga, seperti utang bank dan obligasinya kecil. Sebab jenis utang tersebut, pembayaran bunganya akan menjadi beban operasional perusahaan, sehingga akan menurunkan laba bersih. Utang bank beda dengan utang usaha. Kalau utang usaha tidak ada bunga. Misalnya beli bahan baku, bayar belakangan. Nilai pembayaran tetap sama.

6. Saldo laba positif, dan angkanya lebih besar dibanding modal disetor (dan tambahan modal disetor) perusahaan
Dalam laporan keuangan di bagian ekuitas, ada nilai modal disetor dan nilai tambahan modal disetor (jumlahkan). Kemudian ada nilai saldo laba (jumlahkan). Saldo laba harus positif, bukan negatif dan jika dijumlahkan nilanya harus lebih besar dibanding total modal disetor. Itu baru namanya perusahaan yang tumbuh bagus.

Jika saldo laba tercatat minus, berarti di masa lalu, perusahaan tersebut negatif terus. Bila saldo laba positif dan nilainya lebih kecil dari total nilai modal disetor, artinya kurang bagus. Kemungkinannya ada dua. Pertama, laba perusahaan selama ini kecil, sehingga saldo laba selama perusahaan beroperasi segitu-gitu saja. Atau kedua, sebetulnya laba besar, tetapi terus dihabiskan untuk membayar dividen, sehingga ekuitas tidak bertambah. 

7. Asset turn over (ATO) besar
Rumusnya nilai penjualan atau pendapatan dibagi nilai total aset perusahaan. Semakin besar ATO, semakin bagus. Cari saham yang perusahaannya punya kinerja ATO besar.

8. Inventory turn over besar
Rumusnya nilai pendapatan atau penjualan (dalam setahun) dibagi nilai persediaan. Misalnya SIDO mencetak nilai penjualan Rp 2,8 triliun. Nilai persediaannya Rp 300 miliar. Berarti perusahaan tersebut bisa menjual sampai 9 kali. Termasuk perusahaan dengan perputaran cepat. Omzet jalan terus. Nilai penjualan lebih besar dari persediaan.

9. Current ratio besar
Rumusnya aset lancar dibagi utang atau libilitas lancar. Perusahaan yang bagus, total aset lancar harus lebih besar daripada utang lancarnya (utang jangka pendek yang jatuh tempo dalam setahun). Jika menunjukkan kinerja seperti itu, artinya perusahaan tidak punya risiko gagal bayar. Namun bila kondisi sebaliknya, sangat berbahaya. Bisa saja perusahaan akan sulit membayar utang-utangnya.

10. Net income margin besar
Rumusnya laba bersih dibagi pendapatan atau penjualan. Contoh laba periode berjalan SIDO Rp 578 miliar dibagi nilai penjualannya dalam 9 bulan Rp 2,1 triliun, dikali 100%, hasilnya 27%. Dari pendapatan senilai Rp 1.000, bisa diperoleh laba bersih senilai Rp 270.

Marjin laba yang bagus untuk manufaktur adalah 20%. Sedangkan perusahaan dagang distribusi barang minimal 10%. Jadi kalau perusahaan manufaktur, mencetak marjin kurang dari 20%, berarti kurang bagus. 

11. Idealnya setelah laba usaha/laba operasional, hanya ada beban pajak yang besarnya 25% dari laba usaha tersebut
Perusahaan yang sahamnya layak dibeli mesti menunjukkan tidak terlalu banyak beban yang dipikul. Contohnya tidak ada beban bunga utang. Hanya ada beban pajak (PPh Badan) sebesar 25% dari laba usaha sebelum pajak.

Investor perlu hati-hati. Ada perusahaan yang beban pajaknya tidak sampai 25% dari laba usahanya. Kemungkinan itu bukan laba riil. Hanya tercatat di pembukuan saja.

12. Idealnya angka laba komprehensif tidak jauh berbeda dengan angka laba bersih tahun (periode) berjalan
Laba periode berjalan dan laba komprehensif berbeda. Laba periode berjalan atau laba bersih adalah yang berasal dari operasional perusahaan. Walaupun angkanya ada yang riil dan ada yang tidak. Sedangkan laba komprehensif adalah pendapatan atau beban utang yang tidak ada hubungannya dengan operasional perusahaan. Contoh liabilitas imbalan kerja karyawan. Itu adalah utang perusahaan kepada karyawan yang akan dibayar pada saat pensiun nanti.

Uangnya ada ditaruh di perusahaan dana pensiun misalnya supaya diputar. Perusahaan dapat keuntungan dari perputaran modal tersebut. Dan harus tetap dimasukkan dalam laporan keuangan.

13. Laporan arus kas angkanya tidak jauh berbeda dengan laporan laba rugi
Lihat bagian “Arus Kas dari Aktivitas Operasi,” lalu bandingkan dengan nilai penjualan atau pendapatan dan laba periode berjalan. 

Contohnya SIDO. Nilai penerimaan dari pelanggan dengan nilai penjualan hanya beda tipis. Begitupula dengan kas neto diperoleh dari aktivitas operasi dengan laba periode berjalan. Nilainya tidak beda jauh. Kalau angkanya persis sama tidak mungkin. Tetapi perlu hati-hati kalau ternyata nilainya beda jauh. Berarti pendapatan hanya bersifat pembukuan, tidak benar-benar ada duitnya.

14. Neraca keuangannya ‘bersih’ dan sederhana. Begitupula laporan laba ruginya
Perhatikan laporan keuangan, sederhana, tidak rumit atau njelimet dibagian aset, ekuitas, liabilitas atau utang, dan lainnya. (SNP)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD