AALI
11250
ABBA
74
ABDA
6500
ABMM
750
ACES
1525
ACST
380
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1385
ADMF
8525
ADMG
177
ADRO
1180
AGAR
412
AGII
1360
AGRO
1355
AGRO-R
0
AGRS
358
AHAP
62
AIMS
138
AIMS-W
0
AISA
310
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
494
AKRA
3370
AKSI
735
ALDO
450
ALKA
232
ALMI
262
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/02/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
503.52
-0.74%
-3.78
IHSG
6241.80
-0.76%
-47.85
LQ45
944.75
-0.82%
-7.79
HSI
28980.21
-3.64%
-1093.96
N225
28966.01
-3.99%
-1202.26
NYSE
0.00
-100%
-15539.42
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,262
Emas
808,747 / gram

Ini Alasan Para Nasabah Laporkan Seluruh Bos Bumiputera ke Polisi

ECONOMIA
Senin, 22 Februari 2021 11:30 WIB
Koordinator Nasional Kumpulan Pemegang Polis Bumiputera, Yayat Supriyatna, menyatakan, akan melaporkan seluruh pejabat AJB Bumiputera 1912 kepada polisi.
Ini Alasan Para Nasabah Laporkan Seluruh Bos Bumiputera ke Polisi. (MNC Media)

IDXChannel - Koordinator Nasional Kumpulan Pemegang Polis Bumiputera, Yayat Supriyatna, menyatakan, akan melaporkan seluruh pejabat AJB Bumiputera 1912 kepada pihak yang berwajib. Hal Ini berlaku baik di daerah-daerah maupun di pusat atas sesuai pasal 372 dan 378 KUHP. 

"Mulai besok tanggal 22 hingga 26 Februari 2021 seluruh wilayah serentak melaporkan Bumiputera ke pihak berwajib," ujar Yayat saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Sabtu (20/2/2021).

Yayat akan melakukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas perbuatan PMH wanprestasi atas klaim polis pemegang polis yang belum dibayarkan oleh AJB Bumiputera hingga saat ini.

Sebelumnya, dikutip berbagai sumber, Ketua Badan Perwakilan Anggota (BPA) Bumiputera, Nurhasanah, menolak sebutan gagal bayar bagi perusahaan. Utang klaim mencapai sekitar Rp12 triliun dinilai perlu disebut sebagai outstanding claim.

Bumiputera mencatat bahwa pada akhir 2020, utang klaim telah mencapai kisaran Rp12 triliun, lebih besar dari perkiraan awal senilai Rp9,6 triliun. Jumlahnya terus meningkat dibandingkan dengan akhir 2019, yakni sebesar Rp5,3 triliun.

Nurhasanah menilai bahwa gagal bayar merupakan kondisi saat perusahaan tidak bisa lagi bertahan. Dia mengaku bahwa Bumiputera tetap bisa membayar kewajibannya kepada pemegang polis, sehingga enggan menyebut kondisi yang ada sebagai gagal bayar.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak Bumiputera. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD