AALI
9650
ABBA
396
ABDA
0
ABMM
1455
ACES
1240
ACST
234
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1040
ADMF
7725
ADMG
196
ADRO
1870
AGAR
0
AGII
1525
AGRO
2080
AGRO-R
0
AGRS
177
AHAP
76
AIMS
462
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
890
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
965
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/12/06 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.49
0.72%
+3.62
IHSG
6573.41
0.53%
+34.91
LQ45
945.70
0.72%
+6.77
HSI
23444.23
-1.36%
-322.46
N225
27941.69
-0.31%
-87.88
NYSE
16347.87
-0.77%
-127.38
Kurs
HKD/IDR 1,847
USD/IDR 14,395
Emas
825,254 / gram

Ini Alasan Para Nasabah Laporkan Seluruh Bos Bumiputera ke Polisi

ECONOMIA
Senin, 22 Februari 2021 11:30 WIB
Koordinator Nasional Kumpulan Pemegang Polis Bumiputera, Yayat Supriyatna, menyatakan, akan melaporkan seluruh pejabat AJB Bumiputera 1912 kepada polisi.
Ini Alasan Para Nasabah Laporkan Seluruh Bos Bumiputera ke Polisi. (MNC Media)
Ini Alasan Para Nasabah Laporkan Seluruh Bos Bumiputera ke Polisi. (MNC Media)

IDXChannel - Koordinator Nasional Kumpulan Pemegang Polis Bumiputera, Yayat Supriyatna, menyatakan, akan melaporkan seluruh pejabat AJB Bumiputera 1912 kepada pihak yang berwajib. Hal Ini berlaku baik di daerah-daerah maupun di pusat atas sesuai pasal 372 dan 378 KUHP. 

"Mulai besok tanggal 22 hingga 26 Februari 2021 seluruh wilayah serentak melaporkan Bumiputera ke pihak berwajib," ujar Yayat saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Sabtu (20/2/2021).

Yayat akan melakukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas perbuatan PMH wanprestasi atas klaim polis pemegang polis yang belum dibayarkan oleh AJB Bumiputera hingga saat ini.

Sebelumnya, dikutip berbagai sumber, Ketua Badan Perwakilan Anggota (BPA) Bumiputera, Nurhasanah, menolak sebutan gagal bayar bagi perusahaan. Utang klaim mencapai sekitar Rp12 triliun dinilai perlu disebut sebagai outstanding claim.

Bumiputera mencatat bahwa pada akhir 2020, utang klaim telah mencapai kisaran Rp12 triliun, lebih besar dari perkiraan awal senilai Rp9,6 triliun. Jumlahnya terus meningkat dibandingkan dengan akhir 2019, yakni sebesar Rp5,3 triliun.

Nurhasanah menilai bahwa gagal bayar merupakan kondisi saat perusahaan tidak bisa lagi bertahan. Dia mengaku bahwa Bumiputera tetap bisa membayar kewajibannya kepada pemegang polis, sehingga enggan menyebut kondisi yang ada sebagai gagal bayar.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak Bumiputera. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD