“Mungkin ini salah satu badan setara kementerian yang bisa merealisasikan anggaran sebesar itu dan ini uang turun langsung dari kantor kas negara ke SPPG dan digunakan 70 persen untuk membeli bahan baku, 20 persen untuk membiayai operasional termasuk gaji relawan dan 10 persen untuk insentif bagi mitra BGN,” ujar Dadan.
Dia menitikberatkan realisasi anggaran tidak dipakai untuk kepentingan infrastruktur SPPG, karena ditanggung oleh mitra. Sehingga, fokus anggaran terserap di bahan baku makanan, dan ke depan bakal memperluas jangkauan penerima manfaat di seluruh Indonesia.
“Target SPPG 2026 itu kami perkirakan ada 28 ribu SPPG di aglomerasi, dan 8.617 di daerah terpencil dengan total prediksi penerima manfaat 82,9 juta. Dan diproyeksikan di pertengahan tahun tercapai proyeksi porsi MBG mencapai 21 miliar porsi,” ujar dia.
Ke depan, lanjut Dadan, BGN bakal mengakselerasi perkembangan program BGN lebih masif. Sejalan itu, kualitas layanan dan makanan bakal diperhatikan.
“Tentu saja selain mengejar investasi gizi untuk anak di 2026, kami juga akan melakukan akreditasi dan sertifikasi untuk melihat kualitas layanan sehingga nanti akan mendapatkan kualitas SPPG yang unggul. Di tahun 2026, kualitas adalah tujuan BGN,” ucap dia.
(Febrina Ratna Iskana)