AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Defisit APBN 2022 Masih di Atas Tiga Persen, Sri Mulyani Hati-hati Tarik Utang

ECONOMICS
Michelle Natalia
Senin, 29 November 2021 17:32 WIB
Defisit APBN 2022 ditetapkan sebesar Rp868 triliun atau 4,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN 2022 ditetapkan sebesar Rp868 triliun atau 4,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB). (Foto: MNC Media)
Defisit APBN 2022 ditetapkan sebesar Rp868 triliun atau 4,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB). (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa di tahun 2022 anggaran Indonesia masih akan defisit. Adapun defisit APBN ditetapkan sebesar Rp868 triliun atau 4,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Untuk membiayai defisit ini maka kami menyusun strategi atau jurus supaya stabilitas nilai tukar rupiah maupun perekonomian Indonesia tidak terganggu. Kalau salah langkah, bisa-bisa menyebabkan defisit yang lebih lebar lagi, jadi, dengan defisit 4,85% dari PDB maka kita akan terus menjaga pembiayaan secara hati-hati karena tahun depan," ujar Sri dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (29/11/2021).

Dia pun menargetkan Indonesia harus mengembalikan angka defisit di bawah 3% pada tahun 2023. "Sehingga tahun depan adalah momen penting dalam melakukan konsolidasi fiskal agar defisit kembali seperti UU Keuangan Negara, maka dari itu, beberapa dinamika global yang bisa mengancam perekonomian dan bisa mendorong defisit lebih lebar lagi seperti inflasi tinggi, tapering AS, harga komoditas hingga perekonomian China menjadi hal yang perlu diwaspadai," ungkap Sri.

Sri menyampaikan bahwa dalam melakukan penarikan utang seperti perilisan Surat Berharga Negara (SBN) dilakukan dengan hati-hati dan dicari waktu yang paling tepat supaya tidak menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

"Oleh karena itu target dan timing lelang untuk SBN akan dilakukan secara hati-hati menyesuaikan dinamika pasar. Kita akan menggunakan optimalisasi penerbitan SBN ritel untuk bisa perkuat ritel investor di Indonesia dan di dalam negeri," ungkap Sri.

Sementara itu, untuk pembiayaan defisit juga dilakukan melalui kas negara yang masih tersedia hingga kerjasama atau burden sharing dengan Bank Indonesia (BI). Dengan cara tersebut, sambung dia, penarikan utang bisa diminimalisir. "Kita juga akan andalkan sumber pembiayaan non utang seperti saldo kas BLU, SAL dan SILPA dan tentu kita terus koordinasi dengan BI dan otoritas terkait," pungkas Sri. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD