AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Hampir Terpuruk, Wanita Ini Sukses Bangkit dari Usaha Limbah Jeans

ECONOMICS
Avirisda M/Kontributor
Senin, 13 Desember 2021 15:19 WIB
Masa pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia membuat wanita ini juga merasakan sulitnya menjalankan usaha.
Hampir Terpuruk, Wanita Ini Sukses Bangkit dari Usaha Limbah Jeans. (Foto: MNC Media)
Hampir Terpuruk, Wanita Ini Sukses Bangkit dari Usaha Limbah Jeans. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Masa pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia membuat wanita ini juga merasakan sulitnya menjalankan usaha. Namun, dia berhasil bangkit kembali dengan membangun bisnisnya dengan memanfaatkan lombah jeans. 

seorang fashion desainer, bangkit dari keterpurukan. Bahkan, pakaian buatannya sukses menembus pasar internasional ke Jepang dan Korea Selatan.

Feby menuturkan, ide awal membuat fashion berbahan limbah jeans, karena bisnis yang digelutinya sebelumnya nyaris bangkrut. Saat itu, usahanya yang dengan nama brand Memoossa, tak mendapat pemasukan sama sekali lantaran pandemi Covid-19.

Dari sanalah, Feby kemudian mengikuti beberapa kegiatan pelatihan untuk membuat sustainable fashion. Selanjutnya, ia kemudian berpikir untuk membuat usaha sustainable fashion dari bahan limbah jeans, atau yang sudah tidak terpakai.

"Sebenarnya sustainable fashion ini tidak harus jeans. Ada juga yang fokus pada bahan katun. Tetapi saat itu yang saya lihat memang banyak jeans yang tidak terpakai. Akhirnya terfikir menggunakan bahan tersebut," ucapnya, ditemui pada MNC Portal pada Senin (13/12/2021).

Setelah mendapat ide tersebut, Feby kemudian mulai berkreasi dengan membuat beberapa desain outer. Tetapi bahan utama yang digunakan adalah menggunakan limbah celana dan produk jeans lainnya.

Kemudian bahan-bahan tersebut dibuka jahitannya hingga berbentuk lembaran kain. Setelah itu, kain dibentuk sesuai dengan kebutuhan desain yang ditetapkan dan digabungkan dengan tambahan-tambahan bahan lain untuk mempercantik hasil. 

"Karena memang sustainable fashion itu berkelanjutan. Atau lebih mudahnya memperpanjang masa pakai sebuah pakaian," tuturnya.

Dia menambahkan, selama kurun waktu satu tahun, Feby sudah mampu menghasilkan 12 desain berbeda dari sustainable fashion berbahan limbah jeans miliknya. Bahkan sudah diikutkan pada ajang fashion show di sejumlah tempat di Indonesia.

Fashion ala Jepang menjadi acuan dan inspirasi perempuan berusia 39 tahun ini. Namun pihaknya juga menerima desain custom, bila ada calon pembeli yang menginginkan desain yang diinginkannya.

"Kalau mau custom juga bisa. Tetapi tentu biayanya lebih mahal, karena tentu bahannya menyesuaikan dengan kebutuhan desain yang diinginkan," terangnya. 

Sejauh ini, Feby menyebut harga untuk sustainable fashion yang ia buat sedikit lebih mahal dari produk yang ada di pasaran. Hal itu tak lepas dari bahan yang berbeda. Serta proses penggarapannya yang tidak mudah.

Sebelum diolah menjadi pakaian baru, limbah jeans terlebih dahulu dicuci dan dibersihkam dalam berbagai tahap. Setelah bersih baru limbah jeans bisa digunakan untuk berbagai desain yang sudah disiapkan. 

"Untuk harga paling murah itu kisaran Rp385 ribu. Tetapi kalau custom bisa mencapai Rp1 juta lebih. Beberapa produk saya juga sudah pernah dikirimkan ke Jepang maupun Korea Selatan," katanya. 

Meskipun sudah pernah dikirimkan ke luar negeri, Feby mengakui bahwa kapasitas produksi dari fashion miliknya masih belum terlalu banyak. Dalam sepekan ia dan tiga karyawannya baru mampu menghasilkan tujuh pakaian. Hal itu lantaran proses pengolahan limbah jeans yang tidak mudah serta bahan baku juga terbatas.

"Untuk mencari bahan baku biasanya saya beli dari toko baju bekas. Atau juga kadang ambil dari teman-teman. Jadi sementara memang produksinya belum banyak," pungkas Feby. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD