Menurutnya, pemerintah akan melihat daerah yang memiliki pasokan cabai rawit dengan harga relatif terjangkau untuk kemudian didistribusikan ke wilayah yang mengalami harga tinggi.
"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," kata Ketut.
Berdasarkan catatan Bapanas, pelaksanaan FDP cabai rawit pada triwulan I-2026 mencapai 5.590 kilogram. Rinciannya, sebanyak 3.150 kilogram cabai rawit dimobilisasi dari Enrekang, Sulawesi Selatan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.
Kemudian, sebanyak 1.140 kilogram didistribusikan ke Lombok Tengah dan 1.300 kilogram ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Program tersebut turut memberikan dampak terhadap inflasi. Pada April 2026, cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang menyumbang deflasi seiring mulai meredanya tekanan harga pangan setelah Ramadan dan Idulfitri.