Said menjelaskan bahwa sebagai dampak geopolitik, kenaikan harga energi untuk industri termasuk gas yang tidak disubsidi semakin tidak bisa dihindari. Namun harga gas bukan satu-satunya yang membuat beban industri berat.
”Faktor lainnya adalah melemahnya daya beli masyarakat. Akibatnya pembelian barang menurun, produksi ikut turun, dan penurunan produksi mengakibatkan efisiensi yang ujung-ujungnya PHK,” kata dia.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar juga menjadi penyebab naiknya ongkos produksi, terutama bagi perusahaan yang bahan bakunya berasal dari impor.
Dari sisi daya saing industri, kajian ReforMiner Institute memaparkan bahwa daya saing industri nasional tidak ditentukan oleh harga gas semata. Ditentukan oleh banyak faktor antara lain strategi industri, permintaan pasar, ketersediaan bahan baku, produktivitas, efisiensi, nilai tukar, teknologi, logistik, dan akses pasar.
”Harga gas adalah salah satu komponen dalam cost competitiveness, tetapi bukan satu-satunya penentu daya saing,” kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, dalam kajiannya.