"Kehilangan pasokan dari wilayah Timur Tengah yang penting karena perang telah memaksa negara-negara untuk menarik persediaan komersial dan strategis mereka dengan cepat, menimbulkan kekhawatiran tentang penipisan persediaan tersebut," ujarnya.
Sementara itu, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) memperingatkan bahwa bank sentral kemungkinan perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target 2 persen mereka.
Risalah tersebut menyoroti kekhawatiran yang semakin dalam di antara para pejabat Fed tentang tekanan inflasi yang disebabkan oleh perang Iran. Pada rapat April, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal tetap stabil dalam kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Dari sentimen domestik, investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batubara, dan paduan besi, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara. Kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis Jumat (22/5/2026), menyusul defisit pada kuartal IV-2025 yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar.
Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia BI) menaikkan BI Rate telah ditimbang matang-matang sebagai langkah pre-emptive yang terukur untuk merespons dinamika ketidakpastian global. BI berkepentingan untuk menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah.