Menurutnya, praktik impor beras khusus bukan hal baru. Indonesia juga punya perjanjian serupa dengan Jepang, terutama untuk kebutuhan restoran Jepang yang memang membutuhkan jenis beras tertentu yang tidak diproduksi massal di dalam negeri.
Saat ditanya kenapa tidak diproduksi saja di dalam negeri, Zulhas tak menampik bahwa faktor harga menjadi pertimbangan utama.
“Mahal itu, Rp100 ribu lebih satu kilo kan? Siapa mau beli kan? Yang beli kan yang makan di restoran Jepang aja,” katanya.
Ia kembali menegaskan, kebijakan ini bukan soal ketidakmampuan produksi dalam negeri, melainkan soal ceruk pasar yang sangat spesifik dan harga yang tinggi.
“Kayak beras Jepang tuh Rp100 ribu kan satu kilogramnya,” tambahnya.