AALI
8850
ABBA
224
ABDA
6025
ABMM
4380
ACES
650
ACST
196
ACST-R
0
ADES
7275
ADHI
765
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3860
AGAR
316
AGII
2500
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
105
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
144
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1600
AKRA
1305
AKSI
320
ALDO
695
ALKA
290
ALMI
390
ALTO
175
Market Watch
Last updated : 2022/09/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.43
-0.46%
-2.48
IHSG
7127.50
-0.71%
-51.08
LQ45
1020.20
-0.53%
-5.44
HSI
17855.14
-0.44%
-78.13
N225
26431.55
-2.66%
-722.28
NYSE
0.00
-100%
-14116.59
Kurs
HKD/IDR 1,914
USD/IDR 15,125
Emas
799,103 / gram

Inflasi Tinggi dan Tren Kenaikan Suku Bunga Picu Fluktuasi Pasar Obligasi

MARKET NEWS
Wahyudi Aulia Siregar
Jum'at, 01 Juli 2022 19:17 WIB
Fluktuasi terjadi seiring kuatnya tekanan dari ancaman tingginya inflasi serta tren kenaikan suku bunga yang terjadi negara-negara maju.
Inflasi Tinggi dan Tren Kenaikan Suku Bunga Picu Fluktuasi Pasar Obligasi (foto: MNC Media)
Inflasi Tinggi dan Tren Kenaikan Suku Bunga Picu Fluktuasi Pasar Obligasi (foto: MNC Media)

IDXChannel - Kondisi pasar obligasi di Indonesia diproyeksikan masih akan terus bergerak fluktuatif hingga akhir tahun. Fluktuasi terjadi seiring kuatnya tekanan dari ancaman tingginya inflasi serta tren kenaikan suku bunga yang terjadi negara-negara maju.

Meski demikian, kondisi perekonomian domestik yang masih terjaga dengan baik diyakini bisa menjadi katalis positif dalam upaya menahan sentimen negatif dari eksternal tersebut. 

"Karena itu memasuki semester kedua tahun 2022, ini menjadi momentum yang tepat bagi pelaku pasar untuk mengatur kembali strategi investasinya di pasar modal, agar bisa meminimalisir kerugian atau bahkan mendapatkan keuntungan di akhir tahun," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Medan, M Pintor Nasution, Jumat (1/7/2022).

Menurut Pintor, risiko utama yang dihadapi pasar global saat ini adalah keputusan bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserves/The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan secara agresif demi meredam tingginya inflasi. Kondisi ini kemudian memicu risiko terjadinya stagnasi perekonomian di tengah lonjakan inflasi (stagflasi).

"Kondisi perekonomian global yang melambat ini dapat memicu risiko terjadinya resesi ekonomi di AS, maupun beberapa negara maju lainnya," tutur Pintor.

Berdasarkan Outlook Pasar Obligasi Semester II yang dirilis oleh PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), kenaikan suku bunga akan memicu naiknya yield US Treasury. Berdasarkan outlook ini, The Fed masih bisa menaikkan suku bunga secara agresif sekitar 50 bps hingga 75 bps di empat pertemuan bulan yang tersisa.

Kenaikan yield US Treasury akan membuat spread antara yield SBN dengan yield US Treasury juga akan semakin menyempit. Secara tren, pergerakan spread yield US Treasury dengan yield SBN acuan 10 tahun memang terus menyempit.

Pada 2021, spread masih berkisar 500 bps, namun, saat ini spread sudah menjadi 425 bps. Dengan kondisi ini, investor akan cenderung  memilih US Treasury karena jauh lebih menarik. SBN akan dipandang punya risiko yang tinggi, sementara US Treasury yang merupakan safe haven, juga menawarkan yield yang tidak kalah tinggi.

Hingga pertengahan Juni 2022, kinerja pasar obligasi dalam negeri yang tercermin dari Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun 1,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). dari level 332,8078 menjadi 326,8177. Indonesia Government Bond Return Index (INDOBeXG-Total Return) turun 2,09 persen yoy dari 326,1186 menjadi 319,2893.

Sedangkan Indonesia Corporate Bond Return Index (INDOBeXC-Total Return) naik 2,56 persen yoy dari 367,9748 menjadi 377,3892. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan sebesar 6,47 persen year to date (ytd) dari level 6.581,48 menjadi 7.007,0.

"Menurut PHEI, risiko pasar obligasi dari dalam negeri yakni tekanan inflasi. Kondisi tersebut seiring dengan pemulihan ekonomi yang tercermin dari peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen yang dapat mendorong kenaikan inflasi inti. Tekanan inflasi juga berasal dari penyesuaian tarif yang diatur pemerintah, kenaikan harga energi dan beberapa komoditas, dan kenaikan biaya transportasi," jelas Pintor.

Pintor menyebutkan, ada beberapa pendorong kenaikan inflasi yang bisa dicermati investor di pasar obligasi. Pertama, daftar golongan tarif listrik yang naik mulai 1 Juli 2022, kenaikan tarif listrik dari 1.444, 7 per kwh menjadi Rp 1.699 per kwh atau naik 17,64 persen.  

Kedua, harga cabai meroket karena produksi anjlok 60 persen. Kenaikan harga cabai merah disebabkan pasokan ke pasar berkurang drastis akibat imbas gagal panen. 

Ketiga, harga tiket pesawat naik, contohnya tarif penerbangan Batam – Singapura juga naik yang ikut mendorong kenaikan tarif kapal feri penyebrangan dari Batam ke Singapura dan sebaliknya. 

Keempat, harga minyak naik di tengah perkiraan kenaikan  suku bunga AS. Harga minyak naik di perdagangan Asia, di tengah kekhawatiran atas permintaan bahan bakar. 

Kelima, isu kenaikan BBM hingga detergen bakal dikenai cukai, meskipun Askolani Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementrian Keuangan menegaskan pihaknya tidak ada rencana menjadikan bahan bakar minyak (BBM), ban karet, dan detergen sebagai barang kena cukai (BKC).

Sementara itu, katalis bagi pasar obligasi yakni konsolidasi fiskal dengan tren defisit APBN mengalami penurunan, pemulihan ekonomi yang berlanjut, dan dipertahankannya sovereign rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.

Selain itu, sentimen positif juga berasal dari dipertahankannya suku bunga acuan BI, berlanjutnya skema burden sharing dan quantitative easing (QE) oleh Bank Indonesia sebagai dukungan untuk menjaga pasar obligasi tanah air. Total pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dan QE SBN oleh BI sepanjang tahun 2020 sebesar Rp 473,42 triliun melalui pembelian di pasar perdana dan private placement sedangkan di tahun 2021 dilanjutkan sebesar Rp 358,32 triliun.

Tak hanya itu, injeksi likuiditas melalui pasar sekunder dikucurkan BI sebesar Rp750,38 triliun pada tahun 2020 dan Rp 147,83 triliun pada tahun 2021.

Sementara outlook pasar obligasi korporasi tahun 2022, PHEI memperkirakan dalam skenario moderat, penerbitan obligasi korporasi akan berada di kisaran Rp105 triliun sampai Rp110 triliun. Sepanjang semester pertama 2022 sudah diterbitkan obligasi korporasi sebesar Rp69,73 triliun, naik dibanding tahun 2021 sebesar Rp40,94 triliun. 

"Penerbitan obligasi korporasi didorong oleh kebutuhan refinancing dan ekspansi usaha seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi," tandasnya. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD