Namun, selisih USD4 per barel tersebut dinilai masih sangat terkelola dan tidak menjustifikasi adanya tindakan reaktif dari pemerintah. Perhitungan APBN didasarkan pada rata-rata pergerakan harga sepanjang tahun, bukan lonjakan sesaat.
Belajar dari krisis masa lalu, Indonesia cenderung berhasil menghadapi krisis energi global yang sempat pada 2008-2009, 2014, dan 2020. Pada periode 2008–2009, ketika rata-rata harga minyak dunia melambung hingga kisaran USD130 per barel di tengah hancurnya pasar modal Amerika Serikat akibat krisis subprime mortgage.
Meski ekonomi global alami resesi, ekonomi Indonesia nyatanya tetap mampu mencetak pertumbuhan positif di level 4,6 persen, hal ini murni buah kebijakan bauran fiskal dan moneter sehingga Indonesia berhasil menghindari jurang resesi tanpa harus mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.900-Rp16.940 per dolar AS.
(Febrina Ratna Iskana)