Di saat yang sama, bursa global juga dihantui oleh rilis data ekonomi AS yang menunjukkan lonjakan inflasi pada bulan Mei akibat tingginya biaya energi, sehingga memicu kekhawatiran suku bunga global akan tertahan di level tinggi.
Kendati dibayangi sentimen eksternal yang keruh, rupiah mendapatkan vitamin kuat dari dalam negeri berkat pengakuan lembaga internasional terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Bank Dunia (World Bank) secara resmi merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun anggaran 2026 menjadi 5,0 persen. Estimasi terbaru ini melompat signifikan dibandingkan proyeksi pada April lalu yang sempat meramal laju Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan melambat di level 4,7 persen.
"Koreksi positif terhadap fundamental makro inilah yang menjadi dinamo utama bagi investor asing untuk kembali memburu aset keuangan Indonesia dan memicu penguatan rupiah sepekan," kata Ibrahim.