"Informasi kini bergerak dalam hitungan detik dan algoritma sangat memengaruhi apa yang kita lihat. Kecepatan kerap lebih dihargai daripada ketepatan, dan viral seringkali lebih menarik dibandingkan verifikasi," ujarnya
"Pemerintah menyadari bahwa perubahan industri periklanan telah mengubah peta bisnis media," katanya.
Hal ini, kata dia, menciptakan tantangan besar bagi kesejahteraan pekerja media dan eksistensi perusahaan pers.
"Media menghadapi dilema yang nyata, bertahan hidup atau menjaga kualitas, mengejar klik atau menjaga kepercayaan, mengikuti arus atau tetap memegang kompas," lanjutnya.
Namun, Komdigi menekankan bahwa integritas bukanlah penghalang bagi pesatnya kemajuan teknologi. Di era hiperkonektivitas, integritas berarti tahu kapan harus bergerak cepat dan kapan harus berhenti sejenak untuk konfirmasi.
Dia meyakini kepercayaan publik bukan hanya sekadar nilai etis, melainkan aset ekonomi yang krusial. Media yang terpercaya diyakini akan memiliki audiens yang lebih loyal, reputasi yang kuat, dan posisi tawar yang lebih baik di masa depan.
"Batas ini memang tidak selalu nyaman, tapi justru di sanalah kepercayaan publik terbangun," kata dia.
(Nur Ichsan Yuniarto)