AALI
9875
ABBA
324
ABDA
6600
ABMM
1435
ACES
1270
ACST
192
ACST-R
0
ADES
3410
ADHI
835
ADMF
7625
ADMG
182
ADRO
2270
AGAR
348
AGII
1400
AGRO
1250
AGRO-R
0
AGRS
157
AHAP
69
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1115
AKRA
795
AKSI
705
ALDO
1300
ALKA
304
ALMI
288
ALTO
242
Market Watch
Last updated : 2022/01/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.87
-1.14%
-5.85
IHSG
6655.17
-1.06%
-71.21
LQ45
949.49
-1.07%
-10.27
HSI
24656.46
-1.24%
-309.09
N225
27588.37
0.24%
+66.11
NYSE
16397.34
-1.6%
-266.43
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,343
Emas
847,156 / gram

Kulkas Ada yang Berpotensi Haram? Berikut Penjelasan MUI 

SYARIAH
Indah/IDX Channel
Jum'at, 07 Januari 2022 12:28 WIB
Terkait titik kritis halal atau potensi haram dari produk kulkas atau lemari pendingin, berikut penjelasan MUI.
Kulkas Ada yang Berpotensi Haram? Berikut Penjelasan MUI  (Dok.Okezone/Shutterstock)
Kulkas Ada yang Berpotensi Haram? Berikut Penjelasan MUI  (Dok.Okezone/Shutterstock)

IDXChannel - Banyak masyarakat awam yang masih menyimpan tanda tanya soal adanya sertifikasi halal untuk produk kulkas atau lemari pendingin. Produk yang tidak dimakan atau digunakan di tubuh, apa perlu sertifikasi halal? 

Dikutip dari laman Halal MUI, Direktur LPPOM MUI, Dr. Ir. Lukmanul Hakim, M.Si., mengakui dalam beberapa tahun terakhir, permintaan sertifikasi halal di lembaga yang dipimpinnya tidak hanya meningkat, namun juga semakin bervariasi. Termasuk sertifikasi halal untuk produk barang gunaan (produk selain makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan). 

“Sertifikasi halal telah menjadi salah satu kekuatan daya saing bagi produsen, termasuk para produsen barang gunaan yang semakin peduli akan jaminan kehalalan produk mereka,” ujar Lukmanul Hakim.

Apa Titik Kritis Halalnya? 

Senada dengan hal tersebut, Dirut LPPOM MUI Muti Arintawati, menjelaskan, meski tidak masuk ke dalam tubuh seperti halnya makanan atau minuman, kandungan bahan pada produk barang gunaan tetap harus dicermati kehalalannya. Sebab, jika mengandung najis atau haram, maka ketika bersentuhan dengan makanan akan membuat makanan tersebut tercemar barang najis sehingga menjadi haram dikonsumsi.

Kulkas misalnya menurut Muti Arintawati, berdasarkan pengkajian dan proses audit ditemukan ada komponen yang terbuat dari campuran bahan yang menggunakan unsur dari turunan asam lemak. 

Unsur asam lemak merupakan bahan yang kritis dari sisi kehalalannya. 

“Karena asam lemak itu dapat berasal dari bahan hewani dan nabati, maka harus dipastikan bahwa bahan itu bukan dari turunan bahan haram dan najis,” ujarnya.

Dr. Sri Mulijani, Staf Pengajar Departemen Kimia dan Staf Peneliti Pusat Kajian Sains Halal, Institut Pertanian Bogor (IPB) juga mengatakan adanya beberapa kulkas yang menambahkan zat antibakteri dan zat antibau pada kulkas merupakan teknologi terbaru yang sudah dirilis oleh para produsen kulkas.

Beberapa zat tambahan yang digunakan sebagai antibakteri dan antibau inilah yang harus dicermati, karena berpotensi mengandung bahan haram atau najis. Misalnya, ekstrak teh hijau yang digunakan bernama Green Catechins. Penggunaan ekstrak teh hijau tersebut dimungkinkan dengan dukungan teknologi Green Plasma yang bekerja dengan mensterilkan dan menjaga aliran udara tetap sejuk sehingga makanan tetap segar dan higienis.

Penyaringan udara yang dilakukan untuk menjamin udara yang masuk ke kulkas tetap steril menggunakan ekstrak teh hijau. Tahapan dimulai dengan prefilter, hepafilter, sanitasi dengan membunuh kuman, hingga deodorizer dengan mengurangi bau. Sistem ini memastikan udara yang masuk murni dan tak berbau. Potensi ketidakhalalan dari ekstrak teh hijau yaitu kemungkinan adanya penambahan pengharum untuk mengurangi bau.

Zat penghilang bau ditambahkan pada kulkas untuk mencegah atau menghilangkan bau makanan, sayuran, atau daging yang disimpan dalam kulkas tersebut. Pada umumnya, deodorizer yang terdapat di kulkas (built-in) berupa filter yang menyaring udara melewati serat alami dan saringan karbon aktif.

Filter tersebut dapat menyingkirkan bau tidak sedap dan mempertahankan aroma asli makanan menjadi lebih tahan lama. Aroma bau yang menyengat dikeluarkan secara terus-menerus melalui udara yang melewati filter karbon aktif. “Karbon aktif merupakan bahan yang kritis kehalalannya. Seperti diketahui, karbon aktif bisa berasal dari tulang, batu bara, batok kelapa, dan arang,” kata Sri Muljani.

Ketua Komisi Fatwa MUI Prof. Hasanuddin AF, mengatakan, ketentuan halal dalam kaidah syariah tidak terbatas pada aspek konsumsi, namun mencakup aspek yang sangat luas, yakni menggunakan ataupun memakai. Terkait dengan kulkas, dia menambahkan bahwa sebagai salah satu tempat untuk menyimpan makanan yang akan dikonsumsi, barang tersebut harus diyakini kesuciannya. Bahan-bahannya tidak boleh tercampur dengan material yang haram, yang akan memengaruhi kehalalan produk pangan yang disimpan di dalamnya.

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD