Defisit neraca dagang memang menjadi alasan utama penerapan tarif Trump. Tahun lalu, AS mencatat defisit USD1,2 triliun atau setara Rp20 kuadriliun. Perdagangan dengan China mencatat defisit terbesar hingga USD295 miliar, diikuti Uni Eropa USD236 miliar.
Make America Great Again
Kebijakan tarif sebenarnya bukan barang baru di AS. Presiden ke-25 AS, William McKinley (1897-1901) pernah menerapkan tarif serupa. McKinley kerap dijuluki "Tarriff Man", jauh sebelum Trump menyematkan julukan tersebut pada dirinya.
Trump kemungkinan besar terinspirasi dari pendahulunya dari Partai Republik itu. Secara terang-terangan, Trump menyinggung pria yang disebutnya "natural businessman" itu pernah membuat Amerika menjadi kembali kuat dan kaya lewat kebijakan tarif. Ini selaras dengan visi Trump soal "Make America Great Again".
Penasihat Utama Ekonomi Trump, Stephen Mirran pernah menyebut, tarif bisa menjadi senjata bagi AS untuk bernegosiasi dengan para mitra dagangnya. Bagi banyak ekonom, tarif dinilai kontradiktif dan merusak perdagangan global. Mirran tak sepakat karena teori tersebut mengasumsikan perdagangan dunia tak ada defisit atau defisit hanya sementara karena akan hilang dengan sendirinya lewat penyesuaian kurs secara alamiah.
Bagi AS, kebijakan tarif dalam jangka pendek akan menaikkan harga-harga barang, terutama barang impor. Konsumen dan industri yang mengandalkan bahan baku impor akan terkena dampaknya. Berbagai upaya bank sentral The Fed untuk menekan inflasi dan rencana penurunan suku bunga acuan akan menghadapi tantangan berat. Jika kondisi ini tak membaik, maka AS bisa resesi.