Di samping itu, AS juga akan diuntungkan dalam jangka pendek karena akan meraup penerimaan bea masuk dan pajak impor cukup besar. Bersamaan dengan efisiensi besar-besaran yang dilakukan oleh Trump, kebijakan ini bisa meringankan beban APBN. Pada 2025, defisit APBN AS diproyeksikan menyentuh USD1,9 triliun atau lebih dari Rp30 kuadriliun.
Tarif juga akan membuat daya saing produk impor melemah, sehingga diharapkan produksi dalam negeri AS bisa meningkat. Dengan begitu, AS bisa menggenjot ekspornya dan memperbaiki neraca perdagangannya.
Di tengah tingginya biaya tenaga kerja, AS bisa memberikan insentif pajak kepada industri yang memindahkan pabriknya ke AS. Di periode pertama menjadi presiden, Trump kerap memberikan potongan pajak untuk dunia usaha.
Namun, kebijakan ini bukan tanpa tantangan. Perang tarif menjadi tak terhindarkan meski banyak yang memilih opsi negosiasi. Perdagangan global berpotensi menuju arah proteksionisme. Mirip dengan Britania Raya yang memprotes tarif McKinley, China juga membalas tarif Trump dengan menaikkan bea impor barang dari AS.
Perkuat Daya Saing
Lalu bagaimana dengan Indonesia? ASEAN menjadi penyumbang defisit terbesar ketiga bagi AS sebesar USD228 miliar. Di kawasan, Vietnam mengalami surplus terbesar hingga USD123 miliar. Indonesia juga surplus USD17,9 miliar dan masuk 15 negara terbesar yang neracanya surplus dengan AS.