AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Bukan China, Taliban Undang Korsel Tambang Ladang Mineral Afghanistan

ECONOMICS
Umaya Khusniah
Rabu, 25 Agustus 2021 09:17 WIB
Setelah mengambil alih kekuasaan atas Afghanistan, Taliban mulai berpikir keras untuk mengembalikan perekonomian di negerinya.
Bukan China, Taliban Undang Korsel Tambang Ladang Mineral Afghanistan. (Foto: MNC Media)
Bukan China, Taliban Undang Korsel Tambang Ladang Mineral Afghanistan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Setelah mengambil alih kekuasaan atas Afghanistan, Taliban mulai berpikir keras untuk mengembalikan perekonomian di negerinya. Salah satunya menggali sumber daya alam yang tersimpan untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Korea Selatan (Korsel) dilirik Taliban sebagai mitra untuk pemanfaatan ladang mineral di Afghanistan. Tidak hanya itu, kelompok ini juga ingin diakui sebagai pemerintah yang sah dari rakyat.

“Afghanistan penuh dengan sumber daya mineral yang belum dimanfaatkan. Korea (selatan) sebagai produsen elektronik dunia terkemuka dapat bekerja dengan negara kami berdasarkan kepentingan bersama,” kata Pemimpin Taliban, Abdul Qahar Balkhi dalam sebuah wawancara dengan Kantor Berita Yonhap Korea Selatan.

Pernyataan itu muncul di tengah upaya pemerintah Korea Selatan untuk mengevakuasi beberapa warga Afghanistan dari Kabul. Anggota Komisi Kebudayaan Taliban itu menambahkan, Afghanistan juga dapat berfungsi sebagai koridor ekonomi yang menghubungkan negara-negara Asia Selatan dan Tengah.

Dilansir dari Anadolu, Afghanistan kaya akan sumber daya seperti tembaga, emas, minyak, gas alam, uranium, bauksit, batu bara, bijih besi, tanah jarang, litium, kromium, timbal, seng, batu permata, bedak, belerang, travertine, gipsum, dan marmer yang masih belum dieksplorasi.

Sumber daya tersebut tidak termanfaatkan karena perang yang terjadi selama 20 tahun setelah Amerika Serikat (AS) menginvasi negeri itu.

Balkhi mengatakan, Imarah Islam Afghanistan ingin diakui tak hanya oleh Korea Selatan tapi juga seluruh dunia sebagai pemerintah yang sah dari rakyat.

"Taliban benar-benar ingin bertemu dengan para pemimpin dan pengusaha Korea lalu memperkuat hubungan ekonomi dan orang-ke-orang antara masyarakat juga negara,” katanya.

Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan, Suh Hoon, mengatakan kepada parlemen, pemerintah mempertimbangkan berbagai pilihan untuk memberikan perlindungan kepada warga Afghanistan yang bekerja dengan warga Korea Selatan di Kabul, termasuk kemungkinan membawa mereka ke Seoul.

“Kami menganggap ini sebagai masalah dan memiliki kewajiban nasional untuk memberi mereka tempat yang aman. Kami sedang mempertimbangkan langkah-langkah, termasuk opsi untuk mengangkutnya ke sini,” kata Hoon. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD