“Situasi ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok,” imbuh Shinta.
Selain bahan baku, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan beban kewajiban keuangan, terutama perusahaan yang memiliki utang valas dalam bentuk dolar AS. Kenaikan dolar AS akan membuat pembayaran bunga pinjaman dan cicilan pokok membengkak, sehingga mengganggu cashflow.
Kondisi semakin pelik karena daya beli masyarakat tengah lesu. Pelaku usaha tidak memiliki ruang gerak yang memadai untuk menaikkan harga jual produk di pasaran. Sebagai konsekuensinya, porsi terbesar dari himpitan biaya tak terduga ini diserap oleh perusahaan.
“Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Kendati demikian, Shinta mengatakan, pelaku industri sebenarnya memahami tekanan atas pelemahan rupiah bukanlah semata-mata masalah internal domestik, melainkan sebuah imbas dari dinamika perekonomian global yang jauh lebih luas. Kenaikan imbal hasil obligasi AS (yield US Treasury) membuat arus modal berbondong-bondong merapat pada aset-aset yang berbasis dolar AS.