Rentetan kondisi global tersebut kemudian memicu tekanan nilai tukar yang hampir merata menimpa seluruh negara berkembang, tak terkecuali Indonesia, melalui fenomena melonjaknya capital outflow (aliran modal keluar) sekaligus tekanan berat terhadap iklim pasar keuangan. Himpitan semacam ini diproyeksikan masih menyimpan potensi untuk terus berlanjut selama faktor-faktor pemicu di tingkat global belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Apindo juga turut memberikan penilaian terhadap langkah Bank Indonesia (BI) yang tetap menahan suku bunga acuannya di level 4,75 persen, di mana sikap tersebut dianggap sebagai wujud nyata dari kehati-hatian kebijakan atau policy prudence demi merawat stabilitas makroekonomi serta menjaga tingkat kepercayaan pelaku pasar.
Kendati demikian, Shinta kembali menegaskan bahwa sekadar menjaga stabilitas rupanya masih belum cukup memadai. Di tengah situasi semacam ini, sangat dibutuhkan adanya sebuah koordinasi kebijakan yang jauh lebih solid antarlembaga, baik itu yang menyangkut kebijakan moneter, kebijakan fiskal, maupun intervensi di sektor riil, agar pilar kepercayaan pasar serta dunia usaha tidak sampai runtuh.
"Pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di Rp17.500 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all time low," pungkasnya.
(Rahmat Fiansyah)