IDXChannel - Industri penerbangan nasional dinilai tengah memasuki fase stagnasi (plateau effect) setelah mengalami lonjakan pemulihan yang tinggi pasca pandemi Covid-19. Kondisi tersebut ditandai dengan pertumbuhan jumlah penumpang dan kargo yang mulai melambat bahkan cenderung berhenti tumbuh dalam dua tahun terakhir.
Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), Denon Prawiraatmadja mengatakan, jumlah penumpang domestik tahun 2025 berjumlah 63,6 juta atau 97 persen dibanding tahun 2024 sebanyak 65,8 juta. Jumlah ini baru sekitar 80 persen dibanding jumlah penumpang tahun 2019.
Sementara kargo domestik yang diangkut selama tahun 2025 sebanyak 553 ribu ton, atau sekitar 102 persen dari tahun 2024 sebesar 541 ribu ton. Jumlah ini setara 96 persen dari kondisi tahun 2019.
Denon mengatakan, industri penerbangan Indonesia saat ini tengah mengalami fenomena plateau effect, yakni kondisi ketika pertumbuhan suatu usaha berhenti meningkat atau tertahan pada level tertentu meski aktivitas operasional dan kondisi bisnis relatif tidak mengalami perubahan signifikan.
"Pertumbuhan akan kembali meningkat ketika seluruh pemangku kepentingan mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut," ujarnya dalam peluncuran buku Indonesia Aviation Outlook 2026: Strategic Plan & Investment Opportunities di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
INACA mencatat jumlah penumpang dan kargo, baik domestik maupun internasional, mengalami fase stagnasi sepanjang 2024 hingga 2025. Kondisi ini berbeda dengan periode 2022-2023 ketika industri mencatat pertumbuhan tinggi seiring pemulihan mobilitas masyarakat setelah pandemi.
Menurut Denon, pertumbuhan industri ke depan akan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain penambahan armada pesawat yang beroperasi, kebijakan pemerintah dalam menekan harga tiket pesawat, pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan berada di atas 5 persen per tahun, hingga mulai beroperasinya Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan pada 2028.
Selain itu, perkembangan pesat bisnis e-commerce, ekspansi proyek hilirisasi industri, serta peningkatan ekspor dan impor produk yang membutuhkan pengiriman cepat juga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan sektor penerbangan, khususnya angkutan kargo.
Namun, INACA mengingatkan bahwa industri masih menghadapi sejumlah tantangan dalam periode 2026-2030. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga avtur, menguatkan dolar Amerika Serikat, serta mengganggu operasional penerbangan ke kawasan tersebut.
Di sisi lain, organisasi maskapai tersebut melihat adanya sejumlah peluang yang dapat menopang kinerja industri, termasuk kebijakan pemerintah yang lebih responsif terhadap fluktuasi harga bahan bakar melalui skema fuel surcharge yang fleksibel, pembahasan revisi Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB), serta program penurunan harga tiket pesawat melalui pengurangan berbagai komponen biaya yang ditanggung pemerintah dan badan usaha milik negara.
"Para pemangku kepentingan perlu mulai menyusun strategi jangka panjang untuk menghadapi kebutuhan dan tantangan industri dalam 10 hingga 20 tahun mendatang sebagai bagian dari upaya menyongsong Indonesia Emas 2045," ujar Denon.
Meski demikian, Denon menilai prospek industri penerbangan dalam lima tahun mendatang masih dinilai positif. Berdasarkan proyeksi INACA, rata-rata pertumbuhan jumlah penumpang domestik pada periode 2026-2030 diperkirakan mencapai 5,8 persen per tahun. Sementara itu, pertumbuhan penumpang internasional diproyeksikan mencapai 6,6 persen per tahun.
Sementara di sektor kargo, pertumbuhan rata-rata kargo domestik diperkirakan mencapai 5,86 persen per tahun, sedangkan kargo internasional diproyeksikan tumbuh 6,68 persen per tahun selama periode yang sama.
"Industri penerbangan nasional memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia," pungkasnya.
(Rahmat Fiansyah)