sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Riset CISDI: 10 Tahun Cukai Naik, Rokok Tetap Murah dan Terjangkau

Economics editor Yuwantoro Winduajie
18/04/2026 23:30 WIB
Meskipun tarif cukai terus meningkat, kenaikan tersebut tidak menekan daya beli masyarakat sehingga harga rokok tetap terjangkau bagi sebagian besar penduduk.
Riset CISDI: 10 Tahun Cukai Naik, Rokok Tetap Murah dan Terjangkau. Foto: iNews Media Group.
Riset CISDI: 10 Tahun Cukai Naik, Rokok Tetap Murah dan Terjangkau. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel – Riset terbaru Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) bekerja sama dengan Johns Hopkins University (JHU) mengungkapkan bahwa kebijakan Cukai Hasil Tembakau (CHT) di Indonesia sepanjang 2010 hingga 2024 belum cukup kuat untuk menurunkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap rokok.

Meskipun tarif cukai terus meningkat, kenaikan tersebut tidak menekan daya beli masyarakat sehingga harga rokok tetap terjangkau bagi sebagian besar penduduk.

Menggunakan indikator Relative Income Price (RIP), metode standar global yang membandingkan harga rokok dengan tingkat pendapatan masyarakat, riset ini menunjukkan daya beli masyarakat terhadap rokok hampir tidak berubah dalam satu dekade terakhir. 

Angka RIP rokok di Indonesia stagnan di level 3 persen. Artinya, untuk membeli 100 batang rokok, orang Indonesia hanya butuh menggunakan 3 persen dari pendapatannya setahun.

“Secara besaran harga, rokok memang terlihat merangkak naik. Namun, jika dibandingkan dengan kenaikan upah dan pendapatan masyarakat, harga tersebut sebenarnya masih sangat murah. Rokok di Indonesia tidak pernah benar-benar menjadi 'mahal' karena kenaikan harganya selalu terkejar oleh pertumbuhan daya beli masyarakat," kata peneliti CISDI sekaligus Direktur Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, I Dewa Gede Karma Wisana dikutip, Sabtu (18/4/2026).

Stagnasi keterjangkauan harga rokok ini berakar pada kompleksitas struktur tarif cukai yang ada saat ini. 

Keberadaan 8 lapisan atau layer tarif cukai menciptakan celah harga yang terlalu lebar antargolongan produk tembakau. Celah inilah yang memicu fenomena downtrading, ketika perokok memilih beralih ke merek rokok yang lebih murah, terutama produk Sigaret Kretek Tangan (SKT).

Health Economics Research Associate CISDI, Zulfiqar Firdaus, mengatakan tarif cukai produk Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang rendah merusak efektivitas pengendalian konsumsi tembakau. 

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement