Pembelian besar-besaran oleh bank sentral, tingginya permintaan dari konsumen di China dan India, serta meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global menjadi pendorong utama kenaikan harga.
Kekhawatiran terhadap inflasi, ketegangan geopolitik, hingga kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dinilai dapat mengurangi dominasi dolar AS juga turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Namun sejumlah penopang tersebut mulai melemah. Data dari World Gold Council menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral cenderung melandai sepanjang 2025 dan 2026.
Sementara itu, permintaan perhiasan di China turun 31 persen pada kuartal pertama 2026 dan India turun 19 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Secara global, permintaan perhiasan merosot 25 persen menjadi 260,2 ton, sedangkan total permintaan emas turun 9 persen menjadi 1.195,9 ton pada kuartal pertama tahun ini. Kenaikan harga yang terlalu tinggi dinilai mulai menekan minat beli konsumen.