Berpotensi Default, BEI Suspensi Saham Jababeka
Market News
Fahmi Abidin
Selasa, 09 Juli 2019 09:00 WIB
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) disuspensi sementara di seluruh pasar, baik pasar reguler maupun negosiasi.
Berpotensi Default, BEI Suspensi Saham Jababeka. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) disuspensi sementara di seluruh pasar, baik pasar reguler maupun negosiasi. Hal ini dikonfirmasi oleh Pelaksana Harian Kepala Divisi Penilaian Perusahaan BEI Teuku Fahmi Ariandar.

“Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek KIJA di seluruh pasar sejak sesi kedua perdagangan hari Senin 8 Juli 2019 hingga pengumuman lebih lanjut,” tuturnya.

KIJA disebut-sebut berpotensi default seiring kelalaian memenuhi kewajiban terhadap para pemegang obligasi Jababeka International BV. BEI pun sontak menuntut klarifikasi dari perusahaan terkait.

“Jika terjadi peristiwa yang BEI anggap bisa mempengaruhi persepektif investor, tentunya harus dilihat dari sisi materialistisnya secara umum. Pertama kita lakukan permintaan penjelasan, kami ingin ada klarifikasi berita tersebut. Setelah itu kami masuk ke substansi untuk penyelesaian masalah,” sebut Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna Setia.

Nyoman menambahkan, memang ada indikasi kurang stabilnya arus keuangan KIJA, tapi alangkah lebih baiknya jika menunggu klarifikasi dari pihak direksi KIJA. Ia pun meminta dengan tegas agar perusahaan tersebut segera memberikan informasi pada publik.

"Kalau perlu hal komprehensif, akan ada dengar pendapat antara tim direksi dengan mereka yang berhubungan transaksi tersebut. Jangan berandai, biarkan mereka berikan klarifikasi dulu. Kami minta perusahaan responsif berikan klarifikasi sehingga publik bisa mencerna dengan merata tentang apa yang terjadi,” tegas nyoman.

Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi yang dirilis Minggu (7/7), Corporate Secretary KIJA T. Budianto Liman menyebutkan adanya risiko perusahaan tidak mampu menjalankan kewajibannya kepada para pemegang obligasi. Hal ini disebabkan perubahan komposisi pemegang saham setelah Rapat Umum Pemegang Saham teranyar (26/6).

Dijelaskan pula adanya kewajiban penawaran pembelian dengan harga 101% dari nilai pokok notes sebesar USD 300 juta ditambah dengan kewajiban bunga. (*)

Baca Juga