Tekanan biaya menjadi faktor utama, mulai dari kenaikan harga bahan bakar seiring lonjakan minyak, hingga implementasi mandatori biodiesel B50 yang berpotensi menurunkan efisiensi dan meningkatkan biaya perawatan.
Selain itu, rencana pungutan ekspor sebesar 1-5 persen turut menambah beban.
Akibatnya, ruang ekspansi margin tetap terbatas dan profitabilitas sektor kini lebih ditentukan oleh efisiensi biaya.
Ke depan, harga batu bara pada 2026 diperkirakan bergerak stabil di kisaran USD110-USD120 per ton.
Level ini dinilai cukup kuat sebagai penopang (floor), didukung disiplin pasokan Indonesia melalui pembatasan RKAB serta tekanan biaya global.
Namun, kisaran tersebut belum cukup untuk mendorong siklus kenaikan laba yang signifikan.