IDXChannel - Pengurus Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Izzuddin menyampaikan, pada Selasa (17/2/2026) atau 29 Sya'ban, hilal berada di posisi ketinggian -1 derajat sampai dengan 2 derajat. Alhasil, hilal masih sangat susah terlihat.
"Pada saat tanggal 29 Sya'ban, ketinggian hilal dari Sabang sampai Merauke masih berkisar antara -1 derajat sampai dengan 2 derajat. Kemudian elongasi pun masih berkisar 1 sampai 2 derajat," ujarnya dikutip melalui kanal YouTube NU Online, Selasa (17/2/2026).
Namun, sebagaimana tradisi dan pedoman Nahdatul Ulama (NU), data hisab ini harus diverifikasi atau dibuktikan melalui Rukyatul Hilal dengan pengamatan secara langsung.
Menurutnya, hilal akan terlihat bila berada ketinggian 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Dengan begitu, hilal akan sulit terlihat hari ini.
"Kalau kita berpijak kepada kriteria MABIMS baru yang Nahdlatul Ulama juga memeganginya, yakni ketinggian hilal 3 derajat kemudian elongasi 6,4 derajat, maka sangat-sangat jelas bahwa insyaallah tidak akan ada yang berhasil melihat hilal," kata dia.
Dengan prediksi itu, Nahdatul Ulama (NU) menyampaikan awal puasa akan jatuh pada Kamis 19 Februari 2026. Sedangkan salat tarawih pertama akan dilaksanakan pada Rabu 18 Februari 2026 malam.
"Oleh karena itu, untuk awal Ramadan yang akan datang, insyaallah ikhbar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan menetapkan, malam Kamis sudah disunahkan salat Tarawih yang berarti Kamis pagi sudah berkewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadan, yakni tanggal 1 Ramadan 1447 Hijriah," ujarnya.
(Dhera Arizona)